Oleh: tOir
MULAI .., mulai penampakan politisi miris-miris gegara habis miliaran, tetapi gagal kembali ke Senayan. Padahal yang bersangkutan tergolong papan atas.
Tutur katanya nelongso. Sorot mata hambar dibumbui cengengesan di depan kamera televisi.
Sekira hitungan 3 bulan silam, yang bersangkutan masih seru memborong kebenaran. Cepat atau lambat bakal banyak lainnya menyusul.
*
Dampak kerusakan sistem politik di tingkat hulu, berlangsung pasca reformasi. Berimbas ke hilir hingga muara.
Biota kehidupan pada setiap cekungan aliran, karuan saja keracunan liberalisasi – kapitalisasi.
Fenomena mama minta pulsa, ngotot membela yang bayar, wani piro alias sikap transaksional kini jadi alat ukur interaksi sosial.
Aktualisasinya, berlangsung se-Indonesia pada ajang kompetisi politik 5 tahunan yang baru berlalu. Sekira 6 bulan mendatang, November 2024, berkecamuk lagi pada tingkat daerah.
Sungguh kontra produktif!
*
Kecanduan pragmatisme dampak liberalisasi yang nyata-nyata merusak jati diri bangsa kita itu, menjadi tema sentral tukar pikir Perintis Gunawan (PG) Slamet Gandhiwidjaja sebagai tokoh utama Komunitas Rakyat Pinggiran Indonesia dengan sejumlah kalangan tokoh pergerakan termasuk Faizal Assegaf.
Rabu (8/5), tukar pikirannya dengan akademisi perguruan tinggi negeri, Mohammad Fauzy
di Warung Fatmawati 33A, Jakarta Selatan.
Perilaku gotong-royong dan musyawarah – mufakat telah kehilangan panggung pada habitatnya.
“Mewujudkan cita-cita NKRI butuh gerakan kembali ke jati diri,” demikian penekanan PG Slamet. “Keadilan sosial dan kesejahteraan umum tertuang dalam naskah Pembukaan UUD 1945 adalah arah perjalanan bangsa ini. Bukan yang lainnya!”
*
Rakyat pinggiran atau di luar lingkaran kekuasaan berhadapan dengan tebing terjal di kala pengeboran, pengerukan hingga perdagangan kekayaan alam di pasar dunia berlangsung besar-besaran.
Sekumpulan orang hidup serbah wah. Bahkan dikabarkan ada yang menghadiahi balitanya ulang tahun berupa pesawat jet pribadi. Korupsi juga tembus ratusan triliun rupiah.
Ada pula anak sekadar dapat sesuap nasi terpaksa menanti hasil orangtua cari nafkah dengan cara mengais-kais sampah.
Belum sampai ke titik. Dewasa ini harga kebutuhan hidup merangkak naik.
Beban pajak rakyat menyeruak berbarengan dengan utang negara yang semakin melambung.
Tambah lagi, muncul kesangaran kapitalis. Memprotes pengoperasian warung kelontong atau dijuluki Warung Madura beroperasi 24 jam non stop di lingkungan permukiman penduduk. Dianggap merugikan.
Aslinya, tidak tahu diri. Gerai perdagangan eceran barang kebutuhan hidup sehari-hari jaringan bisnis konglomerasinya, mengabaikan tata niaga. Beroperasi bak tanpa kendali hingga tembus ke pedesaan.
Haudeh.., aya-aya wae.
*
Reformasi tidak menjadikan kehidupan bangsa kita baik-baik saja.
Ke depan, kudu memangkas benalu. Usir praktek kapitalisasi yang sewenang-wenang.
Pastinya: Go to hell liberalisasi!
Merevitalisasi nilai-nilai luhur warisan leluhur menjadi keniscayaan.*

