JAKARTA Rp1News. Perkembangan sastra Sunda, belum menggembirakan sebab buku bacaan, apalagi berbahasa Sunda, semakin kurang diminati.
Demikian diungkapkan Aan Merdeka Permana, peraih Anugerah Sastra Sunda Rancage 2026 berbahasa Sunda untuk Kategori Penghargaan Jasa (penulis).
Pria kelahiran Bandung, 16 Novémber 1950) itu merupakan pengarang produktif yang konsisten menulis karya sastra dalam berbagai genre seperti roman, cerpen, dan esai.
Dia adalah wartawan senior yang telah berbakti pada dunia jurnalistik sejak tahun 1960-an. Tahun 2025, Aan juga menerbitkan tiga roman yaitu Balada Cinta Nok Sondari, Saritem, dan Siti Munigar.
Menurut panitia, Anugerah Rancage 2026, Aan telah menulis ratusan buku. Sejak tahun 1968 dan terus mengarang tanpa henti. Tak hanya menulis, Aan juga menerbitkan sendiri karya-karyanya, bahkan pergi ke berbagai pelosok Jawa Barat untuk mengantar buku tersebut kepada pelanggan setianya.
Di masa tua, semangat menulis dan dedikasinya terhadap sastera Sunda tak kunjung padam. Atas pertimbangan tersebut, Yayasan Kebudayaan Rancagé memutuskan memberikan Hadiah Jasa tahun 2026 kepadanya. Aan Merdeka berhak mengantongi berupa piagam dan uang tunai.
Berikut wawancara Rp1News selengkaonya dengan pria yang aktif di media sosial facebook itu:
Secara kualitas dan kuantitas, bagaimana pertumbuhan sastra Sunda?
Buruk keduanya. Orang Sunda sudah asing dengan bacaan Sunda. Bisa dilihat dari jumlah media Sunda kini semakin menyusut. Itu pun tidak diakrabi oleh 60 juta suku Sunda.
Dulu saya kerja di Manglé yang oplagnya pernah mencapai 60 ribu eks. Kini paling 5000 eksemplar. Saya pernah kerja di Sipatahunan pernah beroplag 11 ribu éks. Dan saya pernah kerja di Galura yang pernah beroplag 40 Ribu éksplar. Semua kini hanya kenangan. Galura kini paling 3000 éksplar.
Bagaimana tren perkembangan sastra daerah ke depan, apakah media sosial/internet berperan?
Saya belum melihat ada kemajuan sastra Sunda di medsos. Kalau kini ramai berseliweran karya sastra di medsos, ini hanya sebagai pelampiasan hasrat menulis dari para penulis saja, tapi tidak menunjang kehidupan sosial ékonomi para penulis (Sunda).
Gengsi sastra Sunda (mungkin yang lainnya), akan terasa bila karyanya berbentuk buku cetak, bukan jenis e-book. Lagian jenis e-book pun tidak signifikan menghidupi para pegiat sastra.
Ini penghargaan ke berapa kali dan apa arti penghargaan ini bagi perjalanan kepenulisan Anda?
Untuk hadiah sastra Rancagé ini untuk kedua kalinya. Tahun 2009 menerima hadiah sastra Samsudi atas buku anak “Sasakala Candi Bojongemas”. Penghargaan lain anugrah budaya Nusantara dari Partai Amanat Nasional pada tahun 2017.
- Tahun 2023 dapat anugrah budaya dari Kota Bandung. Tahun 2025 dapat penghargaan dari Depdikbud Jawa Barat. Terakhir ya ini, penghargaan dari Rancagé 2026 atas jasa berkiprah di dunia sastra Sunda.
- Perkembangan sastra daérah (Sunda), belum menggembira, sebab buku bacaan, apalagi berbahasa Sunda, semakin kurang diminati. Saya belum melihat ada kemajuan sastra Sunda di medsos.
Kalau kini ramai berseliweran karya sastra di medsos, ini hanya sebagai pelampiasan hasrat menulis dari para penulis saja, tapi tidak menunjang kehidupan sosial ékonomi para penulis (Sunda). Gengsi sastra Sunda (mungkin yang lainnya), akan terasa bila karyanya berbentuk buku cetak, bukan jenis e-book. Lagian jenis e-book pun tidak signifikan menghidupi para pegiat sastra.
Apa arti pengharfaan ini buat Anda?
Ya hanya sekadar mengingatkan kepada orang Sunda bahwa para pegiat sastra masih ada. Apakah mereka hirau, tak dijamin.
Dengab semakin berkurangnya peminat Sastra Sunda, apakah memengaruhi semangat Anda berkarya?
Disimak atau tidak oleh orang Sunda, saya tetap berkarya. Sudah lebih dari 150 judul buku Sunda yang saya selesaikan.
Sekarang pun saya tengah menggarap roman panjang perjalanan sejarah Sunda berjudul Sareupna di Pajajaran” (Senja di Pajajaran). Berkisah tentang perjalanan Kerajaan Sunda tentang sosial, ékonomi, budaya, agama, kemiliteran hingga tipikal kepemimpinan Sunda.
Akan tamat 100 (seratus jilid), namun tidak untuk diterbitkan mengingat kondisi perhatian orang Sunda sangat buruk. Itu hanya untuk dokumentasi pribadi saja bahwa saya hirau terhadap perjalanan Sunda dari masa ke masa.(hs)

