Jakarta, Rp1News.- Sebuah acara literasi unik bertajuk “Hajatan Durenkeun” bernuansa kuliner berlangsung di Kota Baru Parahyangan, Bandung, Jawa Barat, 11-17 Februari 2026 lalu.
Ratusan buah duren yang didatangkan dari berbaga pelosok daerah di Jawa Barat, ditata membukit. Pemandangan ini segera saja menyita perhatian pengunjung kaum muda dan Gen Z yang datang dari berbagai pelosok Bandung Raya.
Namun forum itu bukan hanya ajang “durian war”, juga menjadi medan “book war”. Para pemburu dan durian mania juga mendapat suguhan acara literasi berupa pameran dan diskusi peluncuran buku, musikalisasi puisi, dan pembacaan puisi.
Jenis buku yang dipamerkan meliputi cergam anak, parenting, novel pop dan sastra, buku agama, filsafat, bisnis, dan pengetahuan umum
“Hajatan Durenkeun merupakan upaya mengangkat potensi kuliner lokal yang digemari masyarakat dengan balutan literasi,” ungkap penulis Eriyandi Budiman, yang menjadi inisiator acara bersama pegiat seni Wildan Awaludin, melalui bendera komunitas Perkumpulan Bintang Nusantara yang mereka dirikan pada.2018.
Menurut Eriandi, acara ini dikemas dengan memadukan kuliner lokal Jawa Barat dan literasi sebagai cara kerja budaya.
Di dalamnya ada beragam kegiatan seperti penjualan buah durian, bursa buku, klinik bisnis pedesaan, diskusi pengolahan sampah lingkungan, sampai membahas koperasi desa, dan peluang menangani program MBG yang sedang ramai itu.
Juga ada diskusi bertajuk Mendongeng Sebagai Media Pembentukan Karakter Anak. Tampil sebagai pembahas Ida Susanti yang merupakan pendongeng nasional dan Ketua Forum Taman Bacaan Masyrakat (TBM) Kabupaten Bandung.
Tampil menghibur Adew Habsta membawakan musikalisasi puisi Durian Runtuh di Hati dan sajian musik pop band Defaldo, serta penampilan Nasyid Marjan Voice, dan Gus Rofik sebagai pendakwah.
Antologi Puisi Telah Tengah Malam
Acara lain yang membetot perhatian adalah diskusi antologi puisi Telah Tengah Malam dengan pembahas penyair Syarief Hidayat dari BRIN Bandung dan penyair Ujianto Sadewa. Buku ini berisi puisi karya sejumlah penyair Garut Selatan.
“Buku antologi puisi Telah Tengah Malam menjadi dokumen sastra terkini karya para penyair Garut Selatan yang mulai mewarnai kesusasteraan Jawa Barat khususnya, dan punya potensi baik ke depannya,” ungkap Eriyandi tentang kekuatan buku yang terbit 2026 itu.
Kehadiran buku ini, lanjut Eri, penting karena menjadi dokumen sejarah sastra dan karya puisi yang menampilkan nilai-nilai lokalitas Garut Kidul.
“Selain sebagai wacana ekosistem baru sastra pedalaman, juga menjadi momentum pengenalan beragam latar budaya dan para pemikir muda Garut yang umumnya berprofesi guru dan aktif sebagai penggerak literasi lokal maupun Jawa Barat,” paparnya..
Buku lain yang dibahas adalah kumpulan cerpen Sungai Yang Mengalir ke Belakang, karya Resna J. Nurkirana, sastrawan baru dan pengajar di sebuah SMP di kota Cimahi.
Tampil sebagai.pembahas Adhimas Prasetyo yang juga editor penerbit buruan.co. Kedua penampil ini pernah tergabung di ASAS (Arena Studi dan Apresiasi Sastra UPI Bandung.
Kiat sukses acara ini, menurut Eriyandi, berkat dukungan dan kolaborasi panitia dengan sejumlah kalangan seperti penerbit Mizan, The Food Market Kotabaru Parahyangan, KBB, ESD, Indonet, dan Zona Literasi sebagai media pendukung. (hs)

