0 8 min 15 hrs

Jakarta Rp1News — Nama Ahmad Sahroni kembali bergaung di Gedung  DPR RI Senayan Jakarta. Ahmad Sahroni disebut oleh  Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco  Ahmad akan dilantik menjadi Wakil Ketua  Komisi III Fraksi  Nasdem, menggantikan Rusdi Masse yang mengundurkan diri dari Nasdem dan  DPR RI karena pindah ke  partai PSI.

Dalam rapat pleno terbuka  pelantikan pimpinan Komisi III DPR RI, Kamis (19/2), Sufmi Dasco Ahmad  meminta persetujuan  kepada peserta rapat.

“Kami  selaku pimpinan rapat akan menanyakan kepada anggota Komisi III DPR RI, apakah Saudara Ahmad Sahroni dapat disetujui untuk ditetapkan sebagai Wakil Ketua Komisi III DPR?”

Peserta rapat menyahut serempak, “Setuju.”

Dengan demikian Ahmad Sahroni akan kembali menduduki posisi lamanya sebelum dicopot  pada Agustus 2025 lalu,  yaitu   sebagai Wakil Ketua Komisi III DPR RI.

Sahroni sempat  dipindahkan sebagai anggota Komisi I. Posisi Wakil Ketua Komisi III yang ia tinggalkan diisi Rusdi Masse Mappasessu.

Ahmad Sahroni vs Pengemudi Ojol

Menyebut nama  Ahmad Sahroni memang ingatan publik akan kembali ke kasus  yang pernah viral. Ahmad Sahroni  dianggap merendahkan pengemudI Ojol Affan Kurniawan yang tewas “terlindas” aparat kepolisisan  yang tengah mengamankan aksi unjuk rasa di kawasan Senayan, Agustus 2025.

Affan dan Sahroni adalah representasi dari dua kutub sosial yang berbeda jauh.  Affan hadir dari simbol status sosial rakyat Indonesia kelas bawah kebanyakan. Hidup di pinggiran,pas-pasan,  tinggal di rumah petak kontrakan, nyaris tanpa perabotan, dan pekerja keras karena jadi tulang punggung keluarga untuk  makan.

Ironisnya,  seringkali orang seperti Affan jadi korban:  salah tangkap,  salah tuduh, atau salah sasaran, dari suatu peristiwa yang dia tak ketahui asal usul dan asbab musababnya.

Begitulah. Andai tak ada peristiwa unjuk rasa ke Gedung DPR RI pada 28 Agustus itu, mungkin kita tak akan pernah mengenal siapa Affan Kurniawan, anak kedua dari tiga bersaudara yang tinggal di sebuah gang sempit kawasan Menteng,  Jakarta Pusat.

Berita tentang kematian pengemudi ojol bernama Affan “digilas” kendaraan baja rantis Barakuda milik Brimob, 28 Agustus lalu, masih membekaskan kesedihan di ruang publik.

Di malam yang naas itu Affan baru saja mengantarkan pesanan pelanggan Gojek ke suatu alamat. Pulangnya dia melalui jalan di sekitar titik konsentrasi massa yang sedang berunjuk rasa mengkritisi sejumlah Anggota Dewan yang dinilai publik arogan. Mereka menuntut pembubaran  DPR R karena keberadaannya dinilai jauh dari empati dan peduli pada kesulitan dan kepahitan rakyat .

Dalam tempo yang hampir bersamaan, kendaraan baja rantis Barakuda yang sedang melakukan pengamanan melalui jalan itu.

Affan, menurut kesaksian nettizen, seperti sedang berusaha menjauhi  jalan itu. Namun naas, dia dan motornya dilindas Barakuda itu. Nyawa Affsn tak bisa diselamatkan keesokan harinya,  29 Agustus,  Affan dikebumikan di TPU Karet Bivak,  Jakarta Selatan.

Ibunya bercerita,  pada malam kejadian,  dia sedang menunggu Affan pulang membawa beras.Tapi Affan pulang di antar rekan-rekanya dalam keadaan terbujur kaku tak bernyawa.

Crazy Rich Tanjung Priuk

Nama Ahmad Sahroni bukan nama yang asing bagi “penyekrol” media sosial.  Berbeda dengan Affan yang “nothing”, bukan siapa-siapa,  karena kekayaan dan gaya hidupnya,  Sahroni dijuluki “Crazy Rich dari Tanjung Priuk. Tanjung Priuk dikenal sebagai daerah Pelabuhan di Jakarta Utara.

Wajahnya yang cukup ganteng,  kadang klimis, kadang berkumis,  gaya berbusananya yang selalu terkesan modis, acap muncul di layar kaca,  utamanya Metro TV.

Maklum,  Sahroni adalah Anggota DPR Fraksi Partai Nasdem yang  juga  Wakil Ketua Komisi III DPR.

Karier politik Sahroni cukup moncer. Namun juga diiringi sejumlah kontroversi.  Di antara kontroversi yang menyulut kemarahan publik adalah mengatakan “tolol” kepada pendapat publik yang meminta DPR RI dibubarkan.

Pernyataan ini menyulut demo lanjutan. Gagal masuk ke Kompleks DPR RI Senayan,  kemarahan massa beralih ke Sahroni,  Eko Patrio, Uya Kuya, dan Nafa Urbach. Nettizen memasukkan mereka sebagai “wanted”. Orang paling dicari untuk “diadili”. Foto mereka berempat viral di media sosial berikut alamat rumahnya.

Rumah Sahroni,  di kawasan Tanjung Priok  diserbu duluan.  Massa datang mengendarai motor.  Melempari rumah, menjebol gerbang, lalu merangsek masuk ke dalam rumah mewah itu.

Mereka mengacak-acak isi garasi,  ruang tamu, dan menggeledah isi kamar demi kamar sambil bersorak sorai. Seolah itu adalah perayaan pesta rakyat,  semunya mereka videokan.

Hasilnya,  di media sosial, kita separuh tak percaya. Massa berhasil merusak mobil mewah Lexus,  menjarah jam tangan mewah seharga miliaran rupiah,  tas-tas bermerek, menyeret organ, mainan robot dan boneka mahal, dan membongkar brankas berisi uang dolar. Yang lain menemukan sertifikat tanah dan Ijasah SMP Sahroni.

Tapi,  lucunya, ada juga massa yang cuma ingin merasakan nikmatnya berenang di kolam pribadi Sahroni. Sejumlah remaja nampak berjalan-jalan mengenakan celana kedodoran.  Konon itu milik istri Sahroni

Dari unggahan para nettizen itu publik pun dapat menilai,  alangkah bedanya kehidupan Affan dibanding Sahroni si pemantik unjuk rasa massal.  Apa yang ada di rumah Sahroni tak dimiliki Affan.

Keduanya  menerima ganjaran masing-masing. Affan mendapat kehormatan yang mungkin tal pernah dibayangkan saat hidupnya: diantar ribuan teman sejawat sesama pengemudi ojol ke peristirahatannnya yang terakhir. Dan rumah di mana ibunya tinggal disambangi Presiden Prabowo dan para menterinya.

Sebagai tanda duka dan simpati,  kantor pusat Gojek tempat Affan kerja memberikan santunan Rp 70 juta. Sebaliknya,  Sahroni dicopot  dari Dewan Perwakilan Rakyat.

Mengendurkan kemarahan publik

Kemarahan publik (ketersinggungan kolektif) seringkali hanya bisa diredakan dengan memberikan ‘rasa puas’ penyembuh luka.

Demikian pernah disampaikan Sosiolog Imam B Prasodjo dalam unggahan di akun facebooknya, Sabtu (30/08/2025) atau dua hari setelah kematian Affan Kurniawan.

Unggahan dengan judul Mengendurkan kemarahan Publik dimaksudkan sebagai tanggapan pada gelombang unjuk rasa dan penjarahan di rumah sejumlah Anggota Dewan yang terjadi beberapa hari ini.

Sebagai bentuk solusi legal rasional, ujar Imam, misalnya dengan mengusut tuntas tujuh orang pelaku penabrak pekerja ojek online, rasanya tak cukup.

Luka dan kepedihan keluarga Affan  dan publk hanya bisa diredakan bila aktor aktor yang dianggap jadi simbol biang keladi utama kemarahan mendapat sanksi berat sehingga publik merasa terpuaskan.

“Itulah sebabnya mengapa pelaku perkosaan anak di kampung dipukuli masyarakat hingga babak belur tanpa ampun karena pelaku itu jadi ajang pelampiasan ketidak-puasan kolektif,” ujarnya memberi contoh.

Aksi pemukulan massa yang terkadang berlebihan itu adalah pelampiasan kepuasan atas luka kolektif.

Dalam kondisi saat itu,  menurut Imam Prasodjo, yang paling urgen harus dilakukan adalah mencari langkah-langkah strategis dan terukur yang dapat memberikan kepuasan publik.

 

Salah satunya,  para pimpinan partai tempat bernaung aktor aktor yang ucapannya dianggap pemicu kegaduhan, berani menurunkan mereka dari panggung politik secara total.

Menurut dia,  publik mengendaki agar mereka hilang dari panggung publik sama sekali. Apa boleh buat memang begitu psikologi massa yang selama ini bekerja.

Setelah soal kepuasan publik teratasi, barulah langkah langkah subst

antif diambil. Misalnya melakukan reformasi total terhadap lembaga DPR, Kepolisian, Kehakiman,  dan lain-lain.

“Bila ini tidak dilakukan maka kasus semacam ini akan terulang lagi, terus menerus,” pungkas Imam Prasodjo.

Namun ingatan kita memang pendek. Ucapan Ahmad Sahroni yang merendahkan sikap kritis publik dan memicu sanksi sosial unjuk rasa dan penjarahan itu, seolah menguap tanpa bekas dengan kembalinya Sahroni ke jabatan lamanya sebagai Wakil Ketuai Komisi III DPR RI. (hs)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *