Jakarta, Rp1News – Pengangkatan Achmad Muchtasyar sebagai Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia (Persero) yang baru, menjadi sinyal kuat dimulainya babak transformasi strategis pelabuhan nasional.
Kepemimpinan Achmad Muchtasyar harus mampu menjawab persoalan moderenisasi menyeluruh, penegakkan Standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) tanpa kompromi, dan peningkatan kelas buruh.
Jika transformasi berjalan komprehensif, maka Pelindo bukan hanya perusahaan negara, tetapi simbol kebangkitan maritim Indonesia.
Demikian disampaikan Tommy Rahaditia, Dewan Pakar SP TKBM Indonesia/Ketua Dewan Penasehat Ikatan Alumni ISMEI, seperti dilansir Portal TKBM News, Sabtu (21/2).
Menurut Tommy, momentum transformasi strategis pelabuhan nasional tidak berdiri sendiri. Ia terhubung langsung dengan implementasi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam mewujudkan kedaulatan ekonomi, penguatan industri nasional, dan pembangunan SDM unggul.
“Pelabuhan bukan sekadar tempat sandar kapal. Pelabuhan adalah wajah perdagangan Indonesia. Pelabuhan adalah cermin daya saing bangsa,” tegasnya.
Pelabuhan juga adalah simbol peradaban dagang bangsa. Jika ingin Indonesia disegani secara ekonomi, maka wajah pelabuhannya harus modern, aman, dan profesional.
“Indonesia adalah negara maritim terbesar di dunia. Namun besarnya potensi harus diiringi sistem logistik yang efisien dan berstandar global,” imbuhnya.
Untuk itu, modernisasi dalam operasional pelabuhan adalah sebuah keniscayaan dan harus terus didorong. Di dalamnya meliputi digitalisasi operasional terpadu; integrasi sistem nasional;
;transparansi biaya dan pelayanan;
serta efisiensi waktu tunggu kapal.
“Kinerja pelabuhan yang moderen akan mempercepat hilirisasi industri, menekan biaya logistik nasional, meningkatkan daya saing ekspor, dan menarik investasi global. Inilah implementasi nyata Asta Cita dalam sektor maritim,” ungkapnya.
Dikatakan, transformasi tidak boleh hanya mengejar kecepatan dan keuntungan. Keselamatan adalah harga mati karena pelabuhan adalah area berisiko tinggi karena adanya operasionall crane raksasa untuk memindahkan kontainer puluhan ton selama 24 jam.
Sertifikasi dan K3
Menurut Tommy, untuk kelancaran operasional, Pelindo juga harus memperhatikan faktor-faktor penerapan Standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3); pembaruan peralatan bongkar muat sesuai standar global; audit keselamatan berkala; pelatihan disiplin operasional berbasis teknologi; dan modernisas.
Dia mengingatkan, Asta Cita menempatkan pembangunan SDM unggul sebagai prioritas nasional. Di pelabuhan, buruh TKBM adalah tulang punggung operasional.
“Karena itu, Serikat Pekerja Tenaga Kerja Bongkar Muat (SP TKBM) Indonesia mendorong terlaksananya sertifikasi kompetensi melalui Badan Diklat TKBM Indonesia yang telah dibentuk dan fokus pada pendidikan, pelatihan peningkatan skill buruh pelabuhan,” papar Tommy.
Sebagaimana dilansir dalam keterangan tertulis PT Pelabuhan Indonesia (Persero), Senin (23/2), Achmad Muchtasyar resmi menjabat Direktur Utama BUMN tersebut.(hs)

