KITA bagai kehilangan jati diri bernegara. Melepas busana dari sekujur tubuh lantaran tidak tahan didera suhu kemrungsung di balik praktek liberalisasi.
Kita lahir dari pasangan sosialisme & religius. Belakangan terjerumus ke pangkuan demokrasi liberalisme.
Praktek kekuasaan mulai dari posisi ketua RT hingga RI 1, dipantik kompetisi suara terbanyak. Berdampak komersialisasi sekujur tubuh.
Ya, ya, ya … Beginilah adanya. Penekenan kesepakatan transaksional, berlangsung 19 Febebruari 2026 antara RI bersama AS. Sehari kemudian didegradasi sepihak oleh Mahkamah Agung Paman Sam adalah tanda-tanda Tuhan YME tidak pernah tidur.
Memberi waktu bagi kita rakyat Indonesia segera kembali ke pelukan hangat sosialisme religius. Semoga saja tanpa mengulang prahara kekuasaan, melainkan berupa pergerakan semut.
Mumpung masih diberi waktu, rawe rawe ratas, malang-malang putung. Sekali lagi, semoga.
Jakarta, 26.02.26
tOir

