0 11 min 2 hrs

Jakarta, Rp1News – Aktivis dan Pencipta Lagu Darah Juang John Tobing meninggal di Jogyakarta, Rabu malam (26/02).

John dikenal luas sebagai aktivis penentang rezim orde  baru dan juga pencipta lagu Darah Juang yang populer  menjadi semacam “lagu wajib” bagi para aktivis Indonesia setelahnya.

Begitu mendengar kabar duka itu, Wakil Menteri (Wamen) Komunikasi dan Digital (Komdigi) Nezar Patria, langsung mengunggah sebuah obituari menyentuh di akun facebooknya.

Unggahan itu menggambarkan  kedekatan baik sebagai sahabat dan sesama aktivis, dan senior. Di saat kesulitan atau butuh dukungan,  John tak segan menghubungi Nezar, juga di saat sakitnya.

Menurut  Nezar, John berbeda angkatan dengannya. John dari Angkatan 86, sebuah angkatan yang dinilainya  bimbang setelah senior mereka dipukul kebijakan NKK/BKK, serta Dewan Mahasiswa tamat riwayatnya akibat depolitisasi kampus pada masa itu.

“Dari mereka segala cerita gerakan mahasiswa dari zaman ke zaman ditularkan ke generasi berikutnya, terutama bagi angkatan saya, generasi ’90an,” kata Nezar.

Di mata.Nezar, John adalah  sesepuh dari  angkatan yang lebih muda. Dia dinilai sebagai salah satu legenda aktivis mahasiswa pada masanya, dan pernah menjadi Sekretaris Jenderal FKMY (Forum Komunikasi Mahasiswa Yogya), malang melintang aksi bersama petani di Jawa Tengah, terutama Kedung Ombo.

John  adalah tempat bertanya apa yang terjadi pada era sebelumya dan juga sumber moralitas gerakan mahasiswa. Misalnya John melarang mereka yang suka mabuk bergabung dalam barisan.

Sejak FKMY bubar di sekitar 1991-1992, John tidak lagi aktif di gerakan mahasiswa. Juga ketika gerakan itu meluas di tahun-tahun berikutnya, John menarik diri. Dia berada di belakang para juniornya dengan memberi dukungan moral dan menyelesaikan studi sarjananya yang bertema ilmu perdamaian atau polemologi.

Setelah reformasi 1998, ungkap Nezar, John menikah dan sempat tinggal di Pekanbaru lalu bergabung dengan PDI Perjuangan. John kalah di pemilu lokal, dan kemudian merasa politik yang harus “begana-begini” bukan tempat yang tepat dan tak sejalan dengan moralitas personalnya.

“Dia lalu memutuskan pindah ke Yogyakarta dan kembali menulis lagu dan sesekali “ngamen” di sejumlah acara komunitas atau lembaga. Lagu-lagunya yang lama terus dinyanyikan oleh generasi demi generasi para aktivis mahasiswa,” tulis Nezar.

Mezar mengaku pernah mendengar lagi ciptaan John Darah Juang di rumah kos mereka di Karangjati, Jogya.

“Saya  menyimak lagu Darah Juang,  sebuah balada tentang keprihatinan atas penindasan dan ajakan untuk berjuang. Kelak lagu ini adalah warisan terbesar dia bagi gerakan mahasiswa,” kenangnya.

Menurut Nezar, John menciptakan lagu itu sekitar 1991, di saat gerakan mahasiswa belum ramai dan kelak menjadi sejarah penting berakhirnya kediktatoran orde baru di tahun 1998.

Pada masa 1990-an, lagu itu menjalar dengan cepat bak mantra pemanggil keberanian. Kita masih bisa menemukan lagu itu dengan beragam versinya hari ini di Youtube. Dari irama slow rock sampai himne yang syahdu.

Diceritakan Nezar, John pernah datang lagi ke rumahnNezar di Yogyakarta dalam kondisi mulai stroke. Dia berusaha menyanyikan lagi Darah Juang dengan iringan gitar. Namun yang terdengar hanya gumaman, merengeng-rengeng.

“Saya menyaksikan seorang kawan yang bersemangat tinggi, dan bersetia kawan itu, sedang berjuang agar tetap didengar di tengah arus zaman yang berderap begitu cepat, tatkala media sosial jauh lebih ampuh memberikan pengaruh, ketimbang sebuah podium di tengah bulevar seperti yang dilakukan John pada masa mudanya,” papar Nezar.

Menurut Nezar, pada akhir November 2025  lalu, John terserang stroke lagi.  Saat dia belum diputuskan dokter masuk ke ruang ICU di RS Panti Rini Yogya, Nezar menelepon istrinya, Dona, yang lalu menyerahkan  telepon seluler itu kepada John yang terbaring di ranjang.

Di tengah sisa  keadarannya  dan sulit bicara, Nezar berpesan agar John sembuh.

“Cepat sembuh kau lah, kita segera buat konser,” kata saya.

“Hehehe coy ya konser, ya-ya hehehe”, suaranya terdengar melemah dan tak jelas.

Itu rupanya terakhir sekali saya mendengar suara John, ungkap Nezar.

Setelah dirawat hampir beberapa pekan di Panti Rini Jogya,  John terus kehilangan kesadarannya. Lalu dia sempat dua bulan berpindah rumah sakit ke RSA UGM, sampai kemudian agak membaik dan dipulangkan ke rumah meskipun belum sepenuhnya bisa berbicara.

Nezar masih sempat membesuknya dua kali untuk dua rumah sakit itu dan hanya menemukan John yang lelap tertidur dengan selang ventilator menancap di hidungnya.

“Melihat John terbaring adalah menatap kembali sejarah seorang kawan yang pernah gagah: berdiri tegak di bulevar dengan gitar di punggungnya, bersuara keras dan galak mengeritik penguasa,”

Nezar menutup unggahannya dengan mengharukan:

“Rabu sore  tadi seorang kawan menyampaikan pesan John kembali dilarikan ke rumah sakit. kesadarannya mendadak menurun. Lima belas menit sebelum pukul sembilan malam tadi, dokter menyatakan John yang gagah itu meninggal. Saya kembali tertegun dan tanpa sadar menyanyikan Darah Juang  dengan suara berbisik.

Saya berharap arwah John belum pergi terlalu jauh, dan mungkin dia masih bisa mendengarkannya. Saya berdoa kepada Tuhan semoga ada konser yang lebih megah bagi John di alam sana.” (hs)

 

“John pada dasarnya adalah aktivis yang romantik. Dia sesungguhnya adalah seniman. Ironisnya dia menghujat kecenderungan aktivis yang sok jadi seniman, yang dianggapnya genit dan kurang disiplin. Dia juga mencibir para mahasiswa yang suka baca buku tapi tak mampu mengubah realitas politik yang tak adil, dan membiarkan rakyat menderita.

Saya menyesal berdebat dengan John Tobing saat dia membeberkan rencana menggelar konser musik karyanya. “Bantu aku, coy. Cuma kau yang bisa,” kata dia lewat pesan WhatsApp, awal November tahun lalu. Saya mendebatnya dan bertanya bagaimana konsep konsernya, dan terjadilah ketegangan seperti biasa.

Dari dulu saya selalu mencoba mendetilkan apa yang ingin dilakukan John. Saya bertanya, bahkan dengan cara yang Socratic, karena kami pernah berkuliah di Filsafat UGM, dan mengejar dengan pertanyaan “apa” dan “bagaimana”. John lebih tua enam tahun dari saya, namun tercatat sebagai mahasiswa UGM pada 1986, dan saya datang empat tahun kemudian. Dia adalah kakak angkatan yang beda empat tingkat. Gaya komunikasi kami dari dulu memang menyala, mungkin karena anak Batak ketemu anak Aceh, kami biasa bercakap dengan suara yang terdengar galak. Sebetulnya, tak ada kemarahan di sana. Kami biasa bertutur cara Sumatera dengan semua serba terang dan tanpa pura-pura. Hal terpenting: kami berkawan layaknya dua bersaudara.

“Sudahlah, pokoknya kau bantu aku. Ke siapa lagi aku minta bantuan, coy,” kata John lagi. Dialog itu akhirnya berujung landai. Saya akan membantunya tentu saja. “Makin tua makin paten kau kutengok, John”, saya menjawab setengah mengejeknya sambil memberi emoticon tanda tertawa.

Sebetulnya John, bagi saya, tak pernah tua. Dia selamanya seorang aktivis senior berdarah muda yang saya kenal saat pertama berkuliah di Yogyakarta. Pada masa awal 1990an, seorang mahasiswa aktivis dengan gitar diselempangkan di punggungnya (saya membayangkannya seperti seorang pendekar bergitar) berdiri di siang terik di bulevar kampus. Dia memegang megafon dan berteriak lantang menentang kebijakan rezim orde baru. Rambutnya ikal dan panjang berkibar di tiup angin. Tas pinggangnya besar, berisi peralatan mandi dan juga serba serbi yang diakuinya tidak penting. Tak ada yang berani melakukan aksi protes pada masa itu, kecuali segelintir mahasiswa, yang kelak semuanya menjadi legenda di gerakan mahasiswa Yogya semisal Moh Thoriq, Afnan Malay, Dadang Juliantara, dan Untoro Hariadi.

Jarak John dengan angkatan saya memang agak jauh. Dia datang dari Angkatan 86, sebuah angkatan yang bimbang setelah senior mereka dipukul kebijakan NKK/BKK, serta Dewan Mahasiswa tamat riwayatnya akibat depolitisasi kampus pada masa itu. Dari mereka segala cerita gerakan mahasiswa dari zaman ke zaman ditularkan ke generasi berikutnya, terutama bagi angkatan saya, generasi 90an.

John, ungkap Nezar, memang dikenal sebagai sesepuh oleh angkatan yang lebih muda. Dia salah satu legenda aktivis mahasiswa pada masanya, dan pernah menjadi Sekretaris Jenderal FKMY (Forum Komunikasi Mahasiswa Yogya).  Malang melintang aksi bersama petani di Jawa Tengah, terutama Kedung Ombo.

“Dia adalah tempat bertanya apa yang terjadi pada era sebelumya dan juga sumber moralitas gerakan mahasiswa. Misalnya John melarang mereka yang suka mabuk bergabung dalam barisan,” katanya.

“Kalau ingin dicintai rakyat, jangan lakukan hal-hal yang dibenci rakyat,” demikian katanya, dan ini menjadi semacam “doktrin John” dalam melakukan pengorganisiran di tengah komunitas petani.

“Kau anti buku, John. Nanti kau jadi dongok,” kata saya melawan sikapnya itu dulu. “Dongok” adalah bahasa anak Medan untuk dungu.

Saya memang tak setuju soal sikapnya terhadap buku, dan saya tahu dia tidak sedang bersungguh-sungguh, hanya sebuah percobaan agitasi agar saya tak cuma membaca buku, tapi berhimpun dan berorganisasi untuk menyebarkan kesadaran kritis. “Kau baca buku apa, ceritakan padaku, hehehe”, ujarnya kemudian. Saya menudingnya sebagai “kader kuping”, istilah untuk mereka yang hanya menguping hasil bacaan dan malas untuk menggalinya sendiri dari buku.

John tertawa. Dia mengambil gitar, lalu mengalun lagu-lagu ciptaannya. Saat itu saya terdiam dan duduk menyimak alunan lagu-lagu itu di beranda rumah tempat kami kos bersama di Karangjati, Yogyakarta. Saya menyimak lagu “Darah Juang”, sebuah balada tentang keprihatinan atas penindasan dan ajakan untuk berjuang. Kelak lagu ini adalah warisan terbesar dia bagi gerakan mahasiswa. John menciptakan lagu itu sekitar 1991, di saat gerakan mahasiswa belum ramai dan kelak menjadi sejarah penting berakhirnya kediktatoran orde baru di tahun 1998. Pada masa 1990-an, lagu itu menjalar dengan cepat bak mantra pemanggil keberanian. Kita masih bisa menemukan lagu itu dengan beragam versinya hari ini di Youtube. Dari irama slow rock sampai himne yang syahdu.

Beberapa tahun lalu dia bertandang ke rumah saya di Yogya, dan bicaranya agak lambat dan sedikit pelo. “Coy, apakah laguku bisa ditagih royaltinya?”, dia bertanya dengan keluguan yang dalam. Saya menjawab bahwa hal itu agak sulit karena lagu Darah Juang menjadi semacam “folk song” dan sebaiknya diikhlaskan saja menjadi milik sejarah, kecuali ada yang memakainya untuk hal yang komersial. John tersenyum dengan bibirnya bergetar seperti ingin mengatakan sesuatu namun tak terucapkan.

Atas permintaannya yang sulit ditolak, saya menyuguhinya secangkir kopi, dengan takaran ringan alias encer. Dia tak boleh minum kopi kental. Dokter melarangnya setelah dua kali terkena stroke. Itu yang menyebabkan dia bicara sedikit pelo dan lamban. Tapi John hanya mengingat dokter kalau dia lagi tergeletak di rumah sakit. Di luar itu, nasehat dokter bisa dilupakannya, apalagi kalau bertemu kawan-kawan lama.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *