Jakarta, Rp1News — Anda yang lahir di era kejayaan band God Bless tahun ‘70-an akan terkesan dengan gaya permainan bass Donny Fattah.
Kalau vokalis Ahmad Albar selalu tampil terbuka menghadap ke para penontonnya, maka Donny yang bertubuh jangkung dengan rambut dikuncir, punya kebiasaan separuh membungkuk dan menunduk sambil mengayun-ayunkan bassnya saat tampil di panggung.
Ari Garmono, musisi, penulis, dan aktor, serta sering berbagi konten perjalanan, menulis cukup panjang tentang perjalanan karier Donny Fattah diakun facebook pribadinya.
Menurut Ari, sejak God Bless dibentuk pada tahun 1973 oleh Ahmad Albar, Ludwig Lemans, Fuad Hassan, Soman Lubis, dan Donny Fattah, perjalanan band ini mengalami berbagai pasang surut. Personel datang dan pergi, proyek musik silih berganti, bahkan band ini pernah mengalami masa vakum.
“Tetapi dalam semua perubahan itu, ada satu fakta yang menarik: cuma Donny Fattah satu-satunya anggota God Bless yang tidak pernah meninggalkan band ini sejak awal berdirinya,” tulis Ari.
Bahkan, katanya, Ahmad Albar sendiri yang jadi ikon band ini juga pernah sempat keluar dari God Bless. Itu sekitar setelah terbitnya album “History of God Bless”(1991), yang juga diikuti oleh keluarnya single “Laras” pada tahun yang sama.
Awal dekade 1990-an memang menjadi masa ketika God Bless mengalami kevakuman. Para personelnya sibuk dengan proyek masing-masing. Eet Syahranie fokus pada band Edane. Donny Fattah membantu berbagai proyek Kantata—mulai dari Kantata Takwa, Kantata Samsara, hingga Kantata Revolvere.
Ahmad Albar mengerjakan proyek-proyek solo. Teddy Sujaya sibuk mengorbitkan para Lady Rocker, sementara Jockie Suryoprayogo terlibat dalam berbagai proyek musik bersama Iwan Fals dan sejumlah musisi lainnya.
Dalam situasi tersebut bahkan sempat muncul ide yang mengejutkan: Iwan Fals menggantikan Ahmad Albar sebagai vokalis God Bless.
“Nggak tau siapa yang mencetuskan, tapi itu ide brilian dan Iwan sendiri bukan orang lain,” kilah Ari.
Iwan Fals sudah memiliki hubungan musikal dengan God Bless. Ia bahkan menciptakan lagu “Trauma”, sebuah lagu bertema psikologi thriller yang muncul dalam album “Semut Hitam” tahun 1988—sebuah karya yang hingga kini sulit dicari padanannya dalam di dunia rock Indonesia.
Iwan Fals sendiri menyambut ide tersebut dengan cukup antusias. Ia tertarik untuk mencoba menjadi vokalis God Bless. Tapi ide itu tidak pernah terwujud.
Persoalannya; kontrak tur. God Bless waktu itu punya kontrak paket: bikin album sekaligus tour keliling Indonesia. Di sisi lain Iwan Fals cuma bersedia terlibat dalam proses rekaman.Maka rencana itu pun berhenti sebagai sebuah cerita yang nyaris jadi sensasi besar rock Indonesia.
Menurit Ari, di luar semua dinamika itu, Donny Fattah tetap berada di posisinya. Ia adalah fondasi yang menjaga keseimbangan band ini.
Dalam dunia musik rock Indonesia, Donny Fattah memiliki posisi yang sangat unik. Tidak ada bassist rock Indonesia yang pengaruhnya sebesar dirinya. Permainan bassnya lugas, tegas, tetapi juga emosional.
Jika kebanyakan bassist hanya memperkuat ritme, Donny Fattah sukses membuat semua lagu yang dia isi dengan permainan bass yang seperti bernyanyi.
Mungkin, duga Arim, itu ada pengaruhnya dari latar belakangnya sebagai pemain gitar sebelum akhirnya memilih bass sebagai instrumen utamanya. Sentuhan melodis itu membuat permainan bassnya bukan sekadar pengiring, tetapi menjadi bagian dari narasi emosional dalam lagu-lagu God Bless.
Sulit membayangkan lagu-lagu God Bless tanpa permainan bass Donny Fattah. Dari dentuman rock yang keras hingga balada yang penuh emosi, bassnya selalu menjadi penuntun arah bagi arah lagu band ini.
Pencipta lagu
Di mata Ari Garmono, selain sebagai pemain bass, Donny Fattah juga berperan sebagai pencipta lagu. Beberapa karya penting God Bless lahir dari tangannya, termasuk lagu “Musisi”, yang jadi salah satu lagu paling ikonik dalam perjalanan band tersebut.
“Tapi setelah puluhan tahun berjuang melawan penyakitnya, Donny Fattah akhirnya berpulang. Ia pergi meninggalkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar jejak karier,” kenang Ari.
Donny pergi meninggalkan legacy tentang kesetiaan, tentang dedikasi, dan tentang bagaimana sebuah permainan bass dapat menjadi nyawa bagi sebuah band.
“Singkatnya dalam sejarah panjang God Bless, Donny Fattah bukan sekadar bassist. Dialah penjaga nyawa band itu sendiri. Selamat jalan dan terimakasih, Bang Donny,” pungkas Ari.(hs)

