Jakarta, Rp1News – Mantan Wakil Presiden ke-6 RI Try Sutrisno telah damai di Alam Kekal. Wafatnya Pak Try di RSPAD Gatot Subroto, Senin (2/3/2026 lalu, menyisakan duka pada rakyat Indonesia.
Rakyat tidak mudah melupakan begitu saja sosok Pak Try yang rupawan, rendah hati, dan kadang jenaka, namun tetap tegas dalam menyuarakan dan menyuarakan hati nuraninya demi kepentingan banyak orang.
Coba Sutrisno mengabdikan sebagian besar usianya bersama TNI. Jejak persahabatan terbaca jelas sejak prajurit sampai terpilih mendampingi Presiden Soeharto sebagai Wakil Presiden.
Salah satu bukti kedekatan Try Sutrisno dengan Presiden Soeharto tercermin dari sebuah foto humanis yang sangat populer di eranya. Di dalam foto itu Pak Try yang mengenakan batik diabadikan sedang menarik tongkat yang dipegang Pak Harto agar bisa melewati sebuah parit.
Sedemikian dekat dan akrabnya sosok almarhum Try Sutrisno di hati rakyat dan tubuh TNI, pantaslah bila tumbuh harapan agar pengabdian Try Sutrisno tak berhenti dengan wafatnya beliau.
Lanjut di institusi TNI
Mendiang Try Sutrsno dikaruniai tujuh orang anak, yakni Nora Kristyana, Taufik Dwi Cahyono, Firman Santyabudi, Nori Chandrawati, Isfan Fajar Satrio, Kunto Arief Wibowo, dan Natalia Indrasari.
Dari ketujuh anak itu, dua anak lelaki memilih institusi Polri dan TNI sebagai tempat mengabdi. Pertama, Firman Santyabudi yang telah pensiun dari Polri dengan pangkat terakhir Irjen Pol (Purn).
Kedua, Kunto Arief Wibowo yang kini menjabat Letjen TNI Wibowo. Dia seorang Panglima Tinggi TNI AD atau Jenderal Bintang 3 yang menjabat sebagai Pangkogabwilhan (Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan I).
Maka tak berlebihan jika harapan keluarga ada pelanjut di TNI kini disandarkan pada sosok pria kelahiran Malang, Jawa Timur, pada tahun 1971 itu.
Media Rp1News yang mencoba menelusuri jejak digital tentang Kunto Arief, mendapatkan sejumlah video yang diunggah masyarakat umum. Mereka mengapresiasi kepribadian Kunto Arief.
Akun facebook Widia Jawak mengunggah Reels saat dia berbincang dengan Kunto Arief.
“Enak ya pimpinan seramah Bapak Pangkogabwilhan Kunto Arief Wibowo,” tulisnya.
Di dalam video itu terlihat Kunto Arief menyapa wanita pengunggah video dan berbincang tentang tugas suami yang juga anggota TNI.
Akun facebook Dedi Nata Nata mengunggah video lain yang menampilkan Kunto Arief menyalami dan memperkenalkan anggota keluarganya.
“Terharu Jenderal Kunto Arief Sungkem kepada Bapak dan Ibu Try Sutrisno,” ungkapnya.
Ada juga unggahan yang menulis,”Mencetak sejarah Kunto Arief Menjadi Pangkowilhangab I.”
Memang Kunto Arief Wibowo sering diidentikan dengan mendiang Try Sutrisno. Namun kemudian dia mampu membangun reputasinya sendiri yang kompeten dan berprestasi.
Seperti prajurit TNI umumnya, dia telah melalui berbagai medan pengugasan di lapangan. Sebelum dilantik Presiden Prabowo pada posisi sekarang, dia pernah menduduki Staf Ahli bidang Ekonomi Setjen Wantannas 2024-2025.
Dimutasi beberapa hari
Namun, posisi Pangkowilhangab saya sempat “lepas” beberapa hari. Bukan karena dia “desersi” atau melanggar disiplin Sapta Marga, tapi karena dimutasi tiba-tiba oleh Panglima TNI.
Peristiwa “pencopotan” itu pun menjadi kontroversi di masyarakat. Banyak pihak yang menyoal mengapa hal itu terjadi pada seorang jenderal yang disiplin dan berprestasi seperti Kunto Arief
Publik menduga, mutasi itu disebabkan oleh pernyataan mendiang ayahnya, Try Sutrisno, yang sebelumnya pernah secara terbuka mengusulkan pemakzulan Gibran Raka Bumingraka dari kursi Wakil Presiden dengan alasan jabatan yang diraihnya dengan pelanggaran konstitusi.
Ketika itu, Kunto Arief dimutasi dari jabatannya sebagai Pangkogabwilhan I menjadi Staf Khusus Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD).
serupa luasnya diberitakan, dalam Surat Keputusan Panglima Nomor Kep/554/IV/2025 tertanggal 29 April 2025, jabatan Pangkogabwilhan I yang ditinggalkan Letnan Jenderal Kunto Arief, digantikan oleh Laksamana Madya Hersan yang sebelumnya menjabat Panglima Komando Armada III. Dia disebut-sebut orang dekat mantan Presiden Jokowi.
Namun, Jokowi yang dimintai pendapat oleh jurnalis, menyatakan tidak tahu dan tidak terlibat. Dia menyebutkan pemutasian itu urusan internal TNI.
Pemutasian Kunto Arief termasuk ke dalam 257 nama perwira tinggi (Pati) TNI yang disebut dalam surat Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto.
Keputusan itu mengundang pro dan kontra berkepanjangan di masyarakat. Namun pihak yang “membela” Kunto Arief lebih ramai dibandingkan yang setuju pemutasian.
“Tekanan publik” yang kuat ini membuat Pemerintah, dalam hal ini Panglima TNI, kemudian “membatalkan’ mutasi yang tertuang dalam Keputusan Panglima TNI Nomor Kep/554.A/IV/2025 yang mengatur pembatasan dari dan mempekerjakan dalam jabatan di lingkungan TNI tanggal 30 April 2025.
Alasan penyampaian kembali itu, sebagaimana disampaikan kembali oleh Kepala Pusat Penerangan TNI, Brigadir Jenderal Kristomei Sianturi, Kunto Arief dan enam perwira lain yang dimutasi, masih dibutuhkan kemampuanya untuk bertahan di posisi saat ini. Sehingga, pimpinan TNI merasa perlu menangguhkan pengobatan mereka.
“Ada beberapa petugas yang dibutuhkan saat ini sesuai kebutuhan saat ini. Sehingga pimpinan TNI merasa perlu menangguhkan penggantinya dengan gerbong lain,” kata Sianturi dalam konferensi pers melalui zoom, Jumat (2/5/2025) yang dikutip sejumlah media.
Dari sebanyak 257 perwira yang dimutasi, dalam Keputusan Panglima TNI itu hanya 7 nama perwira yang mutasinya dibatalkan, termuk Letjen Kunto Arief Wibowo.
Namun, suara Kunto Arief Wibowo tak terdengar mempermasalahkan penyembuhan itu. Rakyatlah yang meminta kembali duduk di kursinya semula. Ini adalah kemampuan yang lain dalam soal menahan diri.
Dia tahu kapan bicara dan kapan diam sehingga tidak memantik kegaduhan (hs, berbagai sumber)

