0 6 min 2 minutes

Terbitkan Buku “Transformasi Bisnis Lokal”, Heryani Sikki Ingin Ekonomi Rakyat Naik Kela

Jakarta, Rp1News – Apakah usaha yang Anda rintis di rumah stagnan, dan tak kunjung berkembang, dan sulit menjangkau pasar yang luas?

Untuk menemukan inspirasi agar usaha rumahan Anda berkembang agaknya perlu membaca buku “Transformasi Bisnis Lokal” karya Dr. Nurhaeni Sikki, S.A.P., M.A.P.

Di dunia akademis nama Dr. Nurhaeni Sikki, S.A.P., M.A.P cukup bergaung. Dia adalah Wakil Rektor Universitas Sangga Buana Bandung.

Selain disibukkan oleh dunia akademis, dia seorang penulis yang produktif menulis pengembangan bisnis.

Sebagai akademisi dan praktisi yang peduli pada pengembangan ekonomi lokal, dia juga aktif menulis di Jurnal Sinta dan Schopus.

Motivasinya menulis buku “Transformasi Bisnis Lokal” adalah untuk memberikan panduan praktis bagi pelaku usaha daerah agar mampu beradaptasi di era digital ini.

“Kami melihat banyak potensi lokal yang luar biasa. Contohnya mangga gedong gincu yang kami olah menjadi kripik mangga, namun seringkali terhambat oleh kurangnya strategi transformasi yang sistematis,” ungkapnya.

Buku ini diterbitkan sebagai upaya menjembatan antara teori akademis dengan realitas di lapangan yang kerap berjarak, imbuhnya.

Lewat buku itu dia ingin menyampaikan pesan bahwa perubahan bukan pilihan, melainkan keharusan.

“Pebisnis lokal tidak boleh merasa ‘aman’ di zona nyaman. Dia harus betransformasi bukan hanya mengganti alat dengan teknologi, tetapi soal mengubah pola pikir (mindset) untuk menjadi lebih inovatif, efisien, dan berdaya saing global tanpa kehilangan jati diri lokalnya,” papar perempuan berdarah Bugis ini dalam percakapan dengan Rp1News, belum lama ini.

Menariknya, menurut Sikki, pelaku bisnis objek penulisan itu adalah ibu-ibu rumah tangga yg membangun bisnis dari rumah.

Lewat buku ini dia menyasar pembaca yang terdiri dari pelaku UMKM dan pengusaha lokal yang ingin naik kelas. Juga akademisi dan mahasiswa untuk dijadikan sebagai referensi studi kasus bisnis riil.

Buku ini, katanya, layak dibaca oleh para pengambil kebijakan seperti pemerintah daerah. Buat mereka buku ini dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam menyusun program pengembangan ekonomi kerakyatan.

Bagi Sikki, buku ini adalah karyanya yang ke-5. Dan setiap buku, katanya, memiliki perjalanan dan tantangan tersendiri yang mendewasakan pemikiran saya.

Ditanya mengenai makna menulis bagi dirinya, tanpa ragu dia mengatakan menulis adalah

bentuk “legacy of knowledge” atau warisan ilmu.

“Menulis adalah cara saya mengabadi, berbagi manfaat melampaui batas ruang dan waktu,” tegasnya.

Melalui tulisan, tambahnya, ide-ide kita tetap hidup dan bisa membantu orang lain bahkan saat kita tidak hadir secara fisik di hadapan mereka.

Bagi Sikki, inspirasi menulis bisa datang dari mana saja. Tapi inspirasi paling besar justru datang dari interaksi langsung di lapangan.

Contohnya, dengan mendengarkan keluh kesah para pelaku usaha, mengamati tren pasar, serta berdiskusi dengan sesama rekan praktisi.

“Seringkali, solusi dari sebuah masalah yang saya temui saat mendampingi bisnis lokal itulah yang memicu kerangka tulisan dalam buku ini,” ucapnya.

Nurhaeni Sikki mengaku kini sedang disibukan sebagai dosen dan melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Dia mengajar, melakukan penelitian, dan mengabdi kepada masyarakat.

Dia juga melakukan pendampingan bisnis dengan fokus pada pengembangan manajemen dan strategi pemasaran UMKM serta bisnis internasional

Ibu dua anak ini sering diundang dalam berbagai seminar administrasi bisnis dan modal manusia, disamping aktif jadi guest lecturer di beberapa negara.

Pensiun dini dari militer

Melihat penampilannya, sekilas dia nampak seperti kaum wanita umumnya. Namun jika diamati lebih teliti, ada sikap tegas baik dalam ucapan maupun tindakannya.

Maklum, dia pernah berkarier di lingkungan TNI. Namun dia mengambil keputusan penting dengan pensiun dini. Kini dia merasa lebih nyaman melanjutkan pengabdiannya di bidang akademis seperti sekarang.

Dia menyebut angka 28 tahun sebagai masa berkarir dan mengabdikan dirinya di tubuh TNI.

Setelah lulus Bintara melalui jalur prestasi sebagai atlet renang dari Sulawesi Selatan, pada tahun 1990, dia ditugaskan di Kodam Jaya.

Meskipun lolos dan tergabung dalam Kowad (Korps Wanita Angkatan Darat), dia terus mengembangkan diri dengan menempuh pendidikan formal di Universitas Indonesia jenjang D3 dan lulus tahun 1995. saat itu ia kuliah sambil mengemban tugas sebagai prajurit TNI.

Setelah menjadi Perwira Kowad dia bertugas di Pusdik Kowad. Sejak berpangkat Letnan Dua hingga Letnan Kolonel. Selama waktu tersebut, dirinya tetap berjuang melanjutkan pendidikan formal hingga jenjang (S2) Magister ilmu Administrasi Publik (M.A.P).

Selama bertugas di Pusdik Kowad, dia mengemban tugas menjadi guru militer, sebagai guru militer sampai pernah ikut mendidik lulusan Taruni AD.

Setelah menjadi abdi negara di bidang militer selama 28 tahun, wanita yang haus pendidikan ini memutuskan pensiun dini pada tahun 2018.

Sejak itu dia total terjun ke dunia pendidikan. Baginya, dunia militer dan pendidikan memiliki kesamaan yaitu sarana mengabdi dan menyebarkan ilmu.

Namun di dunia pendidikan dia merasa memilikii gerak dan jangkauan yang lebih luas.

“Alasan saya mengambil pensiun dini bukan berarti saya tidak mencintai dan meninggalkan TNI, tapi mungkin ini sudah jalan Allah karena hidup itu pilihan,” pungkasnya. (hs)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *