0 2 min 6 hrs

Ambon, Rp1News – Efek perang Iran vs Israel/Amerika Serikat telah mendongkrak harga minyak dan menyebabkan kenaikan harga-harga kebutuhan pokok di dalam negeri.

Dalam situasi yang tidak disebutkan itu, Wakil Gubernur Maluku Abdullah Vanath mengajak warga Maluku untuk menerapkan pola hidup sederhana dengan tidak merayakan Lebaran atau Idul Fitri 1 Syawal 1447 H secara jor-joran.

Siuasi di Timur Tengah itu dinilai berpotensi memicu kenaikan harga komoditas dunia yang pada akhirnya berdampak pada perekonomian nasional.

Dalam keterangan persnya Abdullah Vanath menyebutkan, situasi geopolitik yang memanas telah mempengaruhi nilai tukar dan harga energi global.

Dia menyampaikan hal itu sambil memperhatikan kondisi ekonomi yang berpotensi berdampak pada inflasi di daerah.

Akibat perang di Iran, kata Abdullah Vanath, nilai dolar sudah mencapai 17 ribu dan harga minyak menembus 120 dolar.

“Itu artinya APBN kita bisa jebol di atas 70 triliun,” tegasnya.

Melonjaknya harga minyak dunia berpotensi memberi dampak luas terhadap berbagai sektor kehidupan masyarakat, seperti naiknya biaya transportasi dan distribusi. Pada gilirannya akan menaikan harga kebutuhan pokok.

“Kalau harga minyak naik akan berpengaruh pada semua sektor kehidupan, termasuk pangan. Itu adalah ancaman yang bisa menyebabkan naiknya inflasi,” paparnya.

Abdullah Vanath mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam mengatur pengeluaran, terutama menjelang perayaan Hari Raya Idul Fitri.

Ia mengajak umat Islam di Maluku untuk merayakan Lebaran dengan cara yang sederhana dan tidak berlebihan.

“Kepada seluruh masyarakat di Maluku saya berpesan agar Lebaran ini dirayakan dengan sederhana saja,” imbaunya (hs)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *