Jakarta, Rp1News – Nasib naas menimpa Wakil Koordinator KontraS (Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan) Andrie Yunus. Wajah dan tubuhnya disiram udara keras oleh OTK (orang tak dikenal) saat sedang mengendarai sepeda motornya.
Peristiwa itu memantik kecaman dan membebaskan berbagai elemen masyarakat. Mereka mendesak pihak berwajib segera menangkap pelaku yang sampai berita ini terungkap belum diketahui identitas dan motifnya.
Koordinator Badan Pekerja KontraS, Dimas Bagus Arya, dalam pernyataan pers yang diunggah di akun resmi KontraS, Jumat (13/3/2026 menyebutkan, Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus, telah mengalami serangan penyiraman air keras oleh Orang Tidak Dikenal (OTK) yang mengakibatkan terjadinya luka serius di sekujur tubuh terutama pada area tangan kanan dan kiri, muka, dada, serta bagian mata.
Peristiwa tersebut terjadi sesaat setelah Andrie Yunus usai melakukan perekaman siniar (podcast) di Kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum (YLBHI) bertajuk “Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia” yang berlangsung sekitar pukul 23.00 WIB.
“Pasca peristiwa tersebut, Andrie Yunus segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan secara medis. Dari hasil pemeriksaan, Andrie mengalami luka bakar sebanyak 24%,” tulis Dimas.
Pihak KontraS menilai bahwa tindakan penyiraman air keras yang terjadi di Jalan Salemba, Jakarta Pusat ini merupakan upaya untuk membungkam suara-suara kritis masyarakat khususnya pembela HAM, yang apabila Merujuk pada Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM, Pasal 66 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, dan Peraturan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2015 Tentang Prosedur Perlindungan Terhadap Pembela HAM.
“Peristiwa ini harus segera mendapat perhatian luas dari berbagai pihak, termasuk lembaga penegak hukum dan masyarakat sipil,” tegasnya.
Aparat kepolisian pun langsung melakukan penyelidikan untuk mengungkap pelaku serta motif dibalik serangan tersebut.
Upaya penyiraman air keras terhadap korban dapat mengakibatkan luka fatal yang serius hingga kematian dunia.
Di akhir pernyataannya, Dimas mencantumkan nomor selular sebagai narahubung, yakni :+62; 812-3275-8888; +62 821-7579-4518 dan +62 821-1418-3845.
Usut tuntas
Menteri Hak Azasi Manusia Natalius Pigai mengecam tindakan penyiraman air keras kepada Andrie Yunus. Dia meminta aparat segera menangkap pelaku dan mengungkap motif di belakangnya.
“Tidak boleh premanisme hidup di negara ini. Negara ini adalah negara aman dan damai. Tidak boleh melakukan kekerasan menyiramkan air keras kepada rakyatnya,” ujar Nataligus Pigai saat dimintai tanggapannya oleh awak media.
Dia meminta jika ada perbedaan penyelesaian diselesaikan dengan baik. Demokrasi tumbuh dengan baik. Kita mengalami surplus demokrasi. Tapi tidak boleh ada kekerasan terhadap aktivisme dan masyarakat sipil, katanya.
Negeri ini, tambah Natalius Pigai, besar karena ada masyarakat sipil. Mereka mengontrol check and balances terhadap semua kehidupan berbangsa bernegara.
Mewakili pemerintah, Natalius Pigai menyatakan prihatin dengan peristiwa itu dan meminta tidak boleh diulang lagi.
“Saya minta polisi usut tuntas sampai keluarga korban mendapat keadilan. Kepolisian harus serius kerja mengusut tuntas sampai keluarga korban merasa hukum itu ada,” tutupnya.
Terekam CCTV
Setelah peristiwa terjadi, beredar unggahan viral video yang menggambarkan detik-detik terjadinya penyiraman air keras wajah Andrie Yunus.
Angka jarum jam di video menunjukkan sekitar 23.37. Nampak gerak-gerik dua orang yang berboncengan seperti sudah mengetahui kedatangan korban, pelaku mengambil ancang.
Sayangnya, di dalam video tidak terlihat jelas saat pelaku menyiram air dengan keras. Namun tampak terekam jelas saat pelaku motor memutar arah menyongsong ke arah motor Andrie.
Beberaa detik kemudian terekam Andrie yang hilang keseimbangan, spontan melepaskan motornya sambil berusaha membuka bajunya dan berteriak minta tolong.
Orang-orang yang datangan nampaknya kebingungan harus berbuat apa. Ada yang mengamankan motor Andrie yang dilengkapi dengan lampu yang masih menyala.
Andrie kemudian mendapat pertolongan dengan melarikan diri ke Rumah Sakit Tjiptomangunkusumo. (jam)

