0 3 min 11 hrs

Bogor, Rp News –Mapolres Bogor mendadak riuh. Bukan oleh bukan oleh acara buka puasa bersama, tapi karena kedatangan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang tengah membagikan uang kompensasi kepada sopir angkot yang yang trayeknya Bogor-Puncak.

Video pembagian uang secara simbolis yang disambut gembira para sopir angkot itu menyebar di Youtube dan media sosial.

Dedi Mulyadi menyebutkan, pembagian uang itu sebagai kompensasi agar pada libur Lebaran Idul Fitri 1447 nanti mereka tidak beroperasi untuk menekan kemacatan yang rutin terjadi  di jalur puncak.

Kompensasi Rp 1 juta itu diberikan secara simbolis yang nantinya menyasar  sekitar 2000 sopir bertempat diMapolres Bogor, Minggu 15 Maret 2027.

Dengan meliburkan operasional angkot, diharapkan dapat memperlancar arus lalu lintas di Jalur Puncak selama libur Lebaran 2026, yakni pada tanggal 22, 23, 24, 27, dan 28 Maret

Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Barat Dhani Gumelar menyebutkan, program ini persisnya menyasar 2.068 sopir angkot yang melayani trayek di wilayah Puncak.

Kompensasi itu diberikan sebesar Rp200 ribu per hari kepada setiap sopir. Uangnya ditransfer langsung ke rekening penerima melalui Bank BJB.

Program penghentian sementara ini hanya berlaku untuk angkot 02C rute Pasir Muncang-Ciawi sebanyak 73 kendaraan, angkot 02B rute Sukasari-Cibedug sebanyak 175 kendaraan, serta angkot 02A rute Sukasari-Cisarua dengan jumlah 530 kendaraan.

Dadang menegaskan seluruh angkot pada trayek tersebut wajib menaati kebijakan penghentian operasional pada tanggal yang telah ditetapkan.

Petugas dari Dinas Perhubungan bersama kepolisian akan melakukan pengawasan di lapangan. Angkot yang kedapatan tetap beroperasi akan dikenakan sanksi sesuai aturan yang berlaku.

Minta dikaji ulang

Namun, Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Bogor, Boboy Ruswanto, menilai kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat itu justru malah berdampak pada aktivitas ekonomi masyarakat.

Dia meminta kebijakan itu dikaji ulang karena bisa berdampak kepada masyarakat Puncak yang menggunakan angkot sebagai alat tranportasinya. Misalnya, ibu – ibu yang belanja ke pasar.

Menurut Boboy, alasan meminimalisir kemacetan di jalur Puncak saat arus mudik tidak masuk akal. Pasalnya, pemudik yang melintas di jalur Puncak mayoritas merupakan kendaraan roda dua atau motor yang tidak menyebabkan kemacetan.

“Dan selama ini pun tidak pernah terjadi kemacetan di Jalur Puncak yang diakibatkan arus mudik,” tukasnya seperti dikutip Radar Bogor.

Lagi pula, menurut Boboy, Polres Bogor selama ini sudah bekerja dengan menerapkan sejumlah rekayasa lalu lintas seperti one way atau satu arah, apabila kondisi Jalur Puncak cukup padat. (hs).

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *