Jakarta, Rp1News – Perang Iran melawan Israel / Amerika Serikat (AS) yang sudah memasuki minggu ketiga belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir.
Kedua belah pihak masih melancarkan serangan. Baik serangan persenjataan maupun kata-kata atau “perang urat syaraf”. Klaim kemenangan yang disampaikan Israel/AS dibantah Iran yang menyatakan masih siap bersemangat dalam waktu yang lama.
Trump kemudian mengajak NATO dan sekutunya untuk mengirimkan kapal perang ke Selat Hormuz untuk melumpuhkan Iran –yang secara defacto menguasainya, agar membuka jalan bagi kapal-kapal pengangkut minyak internasional melintasi selat itu demi pasokan minyak dunia tidak terganggu.
Namun Iran membalas seruan Trump dengan menyatakan, “Kapal Hormuz terbuka bagi pengangkut minyak internasional kecuali bagi kapal AS, Israel, dan para sekutunya.
Di mata pengamat politik Andi Malarangeng, sejauh ini, negara-negara lain menyambut dingin ajakan Trump tersebut. Negara-negara NATO seperti Inggeris dan Perancis, Jerman, dan Spanyol enggan terlibat dalam perang di Timteng ini. Lagi pula perang di Timteng ini berada di luar wilayah NATO, yaitu Atlantik Utara.
“Sekutu AS di Asia seperti Jepang akan sulit memenuhi ajakan tersebut karena konstitusi Jepang yang pasifis setelah PDII. Sementara Australia dan Korea belum tentu siap untuk melibatkan diri,” ungkap Andi Malatangeng dalam unggahan di akun facebook pribadinya, Selasa (17/3/2026).
Sekutu-sekutu AS, kata Andi, pada heran karena ketika Amerika dan Israel memutuskan menyerang Iran, tidak ada konsultasi sama sekali dengan mereka. Ini adalah keputusan sepihak AS-Israel. Saat ini, ketika AS berdiskusi saat Selat Hormus dikuasai dan ditutup oleh Iran, Trump baru mengajak negara-negara sekutunya untuk terlibat.
“Saya tidak terlalu yakin negara-negara sekutu AS akan menyambut aksi ini dengan antusias karena ini berarti melibatkan diri secara langsung dalam perang ini,” kata Andi.
Namun, lanjut dia, mungkin saja akan ada beberapa negara yang akan sangat berhati-hati karena menekan Trump. Dan jika itu terjadi, perang akan mengalami eskalasi dan ke titik mana yang menyebabkan semakin merisaukan kita semua. Lalu bagaimana kalau Tiongkok dan Rusia ikut terlibat? Makin runyam.
“Yang kita inginkan adalah deeskalasi dan penguatan perang. Bukan malah melakukan eskalasi,” tutupnya (hs)

