0 3 min 28 sec

Jakarta, Rp1News – Ribuan jemaah Shalat Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriah di lapangan Stadion Pakansari Cibinong Bogor, diingatkan pada kerusakan sosial dan moral yang mengakibatkan bencana alam dahsyat.

“Banjir melanda kota-kota besar dan desa-desa kecil. Tanah longsor meruntuhkan lereng-lereng pegunungan. Gempa bumi mengguncang rumah rumah-rumah yang dibangun dengan harapan dan kerja keras,” kata KH. Dudu Rohman, S.Ag., Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat, yang menjadi khatib shalat Idulfitri di lapangan Stadion Pakansari, Sabtu (21/3/2026).

Media Rp1News yang ikut shalat Id bersama ribuan warga Kabupaten Bogor mencatat, sebelum khutbah Bupati Bogor Rudy Susmanto memberikan sambutan singkat yang berisi ajakan agar warga Kabupaten Bogor bahu membahu bersama membangun Kabupaten Bogor yang luas ini.

Dengan mengutip Al-Quran Surat Ar Rum:41, selanjutnya Dudu Rohman dalam khutbahnya mengatakan, ayat ini turun sebagai peringatan terhadap kerusakan sosial dan moral yang meluas di masyarakat, yang berdampak pada kekacauan dan penderitaan di bumi.

Dalam tafsirnya, ujar khatib, Al-Qurtubi menjelaskan bahwa kata “fasdid” dalam ayat tersebut mencakup tiga lapis kerusakan, yaitu kerusakan moral, kerusakan spiritual, dan kerusakan ekologis yang berjalan beriringan.

“Ketika hati manusia rusak, maka tangannya merusak bumi. Dan ketika bumi rusak maka manusia hidup dalam penderitaan.

Menurut Dudu Rohman, kita harus kembali kepada akar terdalam tauhid. Karena pada hakikatnya semua kerusakan terjadi di bumi barawal dari krisis tauhid dalam hati manusia.

Dia kemudian mengutip Surat Al-Baqoroh:163 yang artinya “Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa ,tidak ada Tuhan selain Dia ,Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”

“Ayat ini turun sebagai jawaban atas pertanyaan sebagian kaum musyrik Mekah yang meminta bukti tentang keesaan Tuhan. Maka Allah menegaskan bahwa Tuhan yang mengatur alam semesta hanyalah satu,” katanya menyebut tafsir al-Quran al-Azim yang diriwayatkan Ibnu Katsir.

Tauhid bukan sekadar kalimat yang diucapkan di lisan dan ditis di batu nisan. Tauhid adalah cara kita memandang dunia, tukasnya.

“Ketika seorang mukmin benar-benar bertauhid, dia melihat bahwa setiap pohon adalah ciptaan Allah, setiap sungai adalah amanah Allah, dan setiap mahluk hidup adalah tanda-tanda dari kebesaran-Nya,” tegas Dudu Rohman. (hs)

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *