Jakarta, Rp1News – Perhatian Menteri Kebudayaan tidak hanya pada peninggalan benda-banda purbakala. Tapi juga pada narasi tua yang tersimpan dalam sebuah buku.
Itulah yang mendorong Fadli Zon tergerak menyelamatkan sejumlah buku lama buatan Menteri Kebudayaan dan Pendidikan (Menteri P & K) dari tahun ’70-an dan ’80-an
Dalam unggahan video di akun facebook, Selasa (24/3/2026), dia mengungkapkan keprihatinannya pada kondisi buku yang bertumpuk di dalam gudang itu.
“Ini buku-buku publikasi Kementerian P dan K dari tahun 70-an dan 80 an. Selama ini cuma ditaruh di gudang menunggu dimakan rayap,” ucapnya dengan nada prihatin.
Dalam percakapan dengan beberapa orang di dalam video itu, Fadli Zon bolak-balik mengamatibuku-buku terikat yang bertumpuk di lantai.
Dia mengatakan akan membuatkan perpustakaan dan mendigitalisasi buku-buku itu.
“Nanti tinggal kita digitalisasi semua untuk menghidupkan narasinya. Terus kita taruh sebagai open source untuk publik,” katanya.
Menurut Fadli Zon, buku yang tersimpan di gudang itu tidak pernah digunakan selama bertahun-tahun.
Dia mengajak membayangkan jika buku-buku ini terus dibiarkan tersimpan di gudang.
“Tumpukan pengetahuan yang pernah ditulis dengan harapan besar, namun tak sempat dibaca, tak sempat dihidupkan kembali,” ucapnya.
Dia mengungkapkan, dirinya menata kembali ruang perpustakaan yang berisi buku-buku dari masa pemerintahan sebelumnya yang lama terbengkalai.
“Bagi saya, setiap buku menyimpan jejak pemikiran, sejarah, dan kerja intelektual yang terlalu berharga jika hanya menjadi arsip yang berdebu,” tegasnya.
Selanjutnya, ujar Fadli, yang perlu dilakukan bukan sekadar merapikan rak, tetapi menghidupkan kembali narasi di dalamnya. Banyak dari buku-buku ini memiliki makna penting bagi perjalanan kebudayaan dan pemikiran anak bangsa.
“Langkah berikutnya adalah mendigitalisasi koleksi ini agar bisa diakses lebih luas oleh masyarakat, peneliti, mahasiswa, dan generasi muda yang ingin belajar dari sumber-sumber pengetahuan yang autentik,” paparnya. (hs)

