0 4 min 3 hrs

Jakarta, Rp1News – Bagi generasi baby boomer, sosok Prof Dr Juwono Sudarsono meninggalkan kesan mendalam. Mantan pejabat sejumlah menteri di era Presiden Soeharto itu menghembuskan nafas terakhir pada 13.45 pada Sabtu (28/3/2026) dalam usia 84 tahun.

Sosiolog Imam B Prasodjo mengunggah kesan dan kenangan semasa kuliah di Universitas Indonesia, di akun facebooknya.

“Siang ini, tepat pada jam 13.45, Sabtu 28 Maret 2026, Pak Juwono berpulang. Pak Juwono lahir 5 Maret 1942 di Ciamis, Jawa Barat dan kembali ke pangkuan Ilahi pada usia 84 tahun,” tulis Imam.

Kabar wafatnya Juwono Sudarsono, menurut dia, sangat menyentak hati karena Jowono termasuk dosen di FISIP-UI (dahulu FIS-UI), tempat dia dulu pertama kali mengenal dunia kampus dan selalu menjadi referensi.

“Setiap mahasiswa, pasti memiliki kenangan tersendiri pada dirinya. Walaupun pun saya sebenarnya tak pernah mengikuti perkuliahan Pak Juwono karena saya berada di jurusan berbeda, sosiologis, namun Pak Juwono sebagai tokoh intelektual kampus (bidang ilmu Hubungan Internasional) selalu menjadi acuan. Ruh intelektual Pak Juwono begitu kuat dalam kehidupan kampus,” ungkapnya

Di mata Imam, dalam kehidupan sehari-hari, ucapan Pak Juwono sebagai dosen maupun sebagai pimpinan fakultas semasa saya menjadi mahasiswa, selalu saya perhatikan.

Apalagi pada tahun pertama kuliah di FIS-UI, hampir setiap seminar di mana Pak Juwono menjadi pembicara, saya selalu coba hadir.

Sebagai mahasiswa baru pada tahun 1980, Kenang Imam, memiliki kesan khusus terhadap Juwono. Yang paling menonjol dalam kenangannya, Juwono adalah dosen yang memiliki pembawaan yang sangat tenang, tutur katanya halus dan sangat terkendali.

“Dalam berbicara, tak pernah meluap-luap. Argumen dalam berpikir sangat sistematis. Saya harus mengakui, Pak Juwono berpengaruh kuat pada saya tentang bagaimana seharusnya sikap akademisi dalam berpikir dan mengemukakan pendapat,” katanya.

Juwono Sudarsono, bagi Imam, menjadi pembeda dengan perilaku para agitator atau provokator yang brangasan dan kejam.

Dalam dunia luar, Juwono tak hanya menjadi seorang dosen dan guru besar. Entah berapa jabatan dalam pemerintahan yang pernah beliau emban.

Seingat Imam, mendiang pernah menjadi Duta Besar Indonesia untuk Britania Raya (Inggris), Menteri Negara Lingkungan Hidup, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Pertahanan dan masih banyak lagi.

Imam memiliki kenangan khusus dengan Juwono. Suatu hari, katanya, menjelang dia menamatkan kuliah di FIS-UI, meminta waktu untuk berbicara dengan Juwono. Mendiang Juwono memberi waktu cukup lama, meski mengetahuinya sangat sibuk.

“Saya ingin menanyakan tentang seluk beluk kuliah di luar negeri yang Pak Juwono alami. Dalam percakapan itu, banyak nasihat yang diberikan. Yang menggembirakan, beliau menawarkan diri memberi surat rekomendasi untuk melamar kuliah di beberapa kampus di Amerika. Saya senang luar biasa,” papar Imam.

Namun, Imam terkejut, surat rekomendasi yang dibuat Juwono ditulis diantar sendiri ke rumahnya.

“Beliau tahu saya sedang menghadapi “batas waktu” untuk mengirimkan surat lamaran tersebut. Tentu, saya malu luar biasa atas sikap dan kebaikan Pak Juwono. Harusnya sayalah yang harus mendapatkan datang surat itu. Apa boleh buat, ”cetus Imam.

Menurut Imam, sikap almarhum ini adalah teladan yang memiliki makna luar biasa.

Dengan segala status sosial yang melekat padanya, ujar Imam, Juwono Sudarsono sangat berhati-hati, dan jelas bersedia “all out” dalam mendukung siswanya untuk melanjutkan studi. (hs)

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *