Bandung, Rp1News — Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengungkapkan kesedihan mendalam atas gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei.
Sebagai pemimpin di Jawa Barat, dia merasa tidak ada apa-apanya dibanding kepemimpinan Ali Khamenei yang gugur akibat eskalasi serangan Israel-Amerika ke Ibu Kota Iran, Teheran.
Dalam video yang diunggahnya, Selasa (3/3, Dedi Mulyadi mengaku sejak mendengar kabar kematian Ali Khamenei, dirinya hanya menangis dan tidak bisa pergi kemana-mana.
“Hari ini saya tidak kemana-mana. Hari ini air mata saya banyak jatuh. Saya melihat di media sosial muncul nggak berhenti-berhenti. Wajahnya cerah membawa kedamaian. Hidupnya penuh keyakinan tanpa ada rasa takut apapun,” ungkapnya.
Menurut Dedi, ucapan-ucapan Ali Khamenei pelan, tidak menggelegar, tapi menghunjam sanubari. Sebagai pemimpin di Jawa Barat Dedi merasa tidak ada apa-apanya.
“Dari tadi saya mengurung diri nggak ke mana-mana. Saya nangis terus. Aku ini nggak ada apa-apanya dibanding dia (Ali Khamenei)” cetusnya dengan nada sedih. Bekas air mata nampak di wajahnya
Dalam pandangan Dedi, Ali Khamenei pemimpin yang hebat. Tidak punya rasa takut. Hidupnya hanya untuk Allah dan Rasulullah. Juga untuk mustadafin, yaitu kaum miskin, anak-anak yatim. dan mereka yang mengalami penderitaan.
“Luar biasa,” puji Dedi Mulyadi.
Dedi menangis karena mengaku di balik dirinya yang selalu bisa makan kenyang, berpakaian relatif baik, penuh kasih dan perhaian pada anak, ternyata dirinya banyak memiliki kelemahan sebagai pemimpin.
Korban TPPO
Dedi kemudian mengaitkan sosok Ali Khamenei dengan kepemimpinannya sebagai orang nomor satu di Jawa Barat yang sering menghadapi berbagai masalah yang dihadapi warganua
Dia mengaku banyak dihubungi perempuan korban TPPO (tindak penjualan orang) yang meminta bantuan.
“Hari ini saya dihubungi oleh anak-anak perempuan di Jawa Barat yang menjadi korban TPPO. Ada yang disiksa, ada yang dikasih makan sekali sehari, ada yang berhutang sampai 125 juta dan minta dijemput,” papar Dedi.
Menurut Dedi, mungkin orang lain tidak akan peduli terhadap masalah itu karena mereka kelihatan berwajah nakal.
Tapi sebagai gubernur dia selalu berfikir, kalau di Jawa Barat banyak orang lapar dan kemudian laparnya membuat dia jual diri, itu karena gubernurnya belum bisa memberi makan yang cukup bagi rakyatnya.
“Bukan salah mereka tapi salah pemimpinnya karena terlalu banyak menggunakan uang negara tapi bukan untuk perut yang kelaparan tapi untuk perut yang kenyang.
Di akhir video Dedi mengajak berdoa agar dunia damai dan kebenaran muncul.
“Mudah-mudahan kebenaran senantiasa memancarkan cahaya walaupun harus ditebus dengan air mata, darah, dan nyawa,” tegasnya.
Dedi Mulyadi yakin, kebenaran akan menjadi catatan tinta sejarah yang akan menjadi spirit positif bagi generasi mendatang.(hs)

