0 5 min 2 dys

Oleh: Arip Musthopa

Salah satu pendiri Institut Satu Republik.

KETIKA menonton film miniseri The Rise of Empire: Ottoman, yang berkisah tentang proses penaklukan Konstantinopel oleh Al Fatih atau Raja Mehmed II; ada satu bagian yang tidak bisa saya lupakan dan menjadi penanda penting dari film tersebut.

Pada saat Al Fatih mulai ragu antara akan berhasil atau tidak menaklukkan Konstantinopel meski telah mengepungnya selama lebih dari 1 bulan (butuh 53-57 hari untuk menaklukkan Konstantinopel), terjadi gerhana bulan merah ( _blood moon_ ). Ibu tiri Al Fatih bernama Mara Brankovic atau Mara Hatun menutupnya di medan perang dan meminta untuk tidak mundur menarik pasukan yang mulai kelelahan. Mara memberitahu Al Fatih bahwa gerhana bulan merah diyakini oleh orang Turkiye kuno sebagai petanda alam akan adanya kekuasaan. Mara berhasil meyakinkan Al Fatih bahwa ini adalah momentum yang tepat dan kemenangan ada di depan mata.

Informasi Mara Hatun tersebut seperti suntikan moral dan menambah keyakinan Al Fatih beserta pasukannya untuk terus berjuang menaklukkan Konstantinopel. Hasilnya adalah sejarah yang kita kenal saat ini, dimana Konstantinopel yang kokoh dibawah panji Romawi Timur selama lebih dari seribu tahun akhirnya berhasil ditaklukkan. Penaklukan yang kemudian dikenal bukan saja penaklukan sebuah kota, melainkan awal mula penulisan ulang tatanan geopolitik global.

***

Serangan AS-Israel dimulai terhadap Iran pada tanggal 28 Februari 2026. Tanggal 3 Maret 2026 terjadi gerhana bulan merah yang bisa dilihat di Asia Tenggara, Australia, Selandia Baru, sebagian Amerika dan kawasan Pasifik. Seketika itu juga penulis teringat miniseri film tersebut: apakah perang AS-Israel vs Iran akan berakhir suatu era yang panjang dan dimulainya era baru? Apalagi diantara dua peristiwa bersejarah yang terpaut rentang waktu ratusan tahun tersebut terdapat geografi geografis: Iran di tepi Selat Hormuz, dan Konstantinopel di tepi Selat Bosphorus.

Perang AS-Israel vs Iran belum menunjukkan tanda-tanda bagaimana akan berakhir, pasca jalan buntu negosiasi damai di Islamabad. Namun langkah Iran menutup Selat Hormuz yang berarti menutup jalur distribusi 20% sumber energi global, menjadikan perang tersebut memiliki dampak global secara langsung yang lebih kuat dari dugaan awal.

Perlawanan Iran yang gigih dan mampu menunjukkan teknologi persenjataan yang canggih menjadikan peperangan akhir menjadi lebih sulit untuk ditebak. Kapan perang akan berakhir? Kekuatan mana yang akan menang? Akankah perang hanya melibatkan tiga negara itu saja atau bereskalasi melibatkan negara-negara di kawasan Teluk atau malah negara lain di luar kawasan Teluk yang menjadi sekutu AS-Israel atau Iran (bermakna terjadi Perang Dunia III)?

Meski belum bisa dipastikan kekuatan mana yang akan menang dan kapan perang akan berakhir, namun hampir bisa dipastikan, tatanan global (bukan hanya Teluk) nampaknya akan berbeda dari kondisi sebelum perang.

Apabila Iran menang dan terus diberlakukan tarif bagi kapal yang lewat Selat Hormuz, maka rezim jalur laut terbuka di Selat Hormuz akan berakhir dan ini bisa menimbulkan _multiplier effect_ pada tata kelola selat-selat lainnya seperti Selat Malaka, dan sebagainya.

Iran akan menjadi negara berkekuatan nuklir. Wibawa AS akan diredup, kemungkinan NATO akan bubar, atau paling tidak, nilai strateginya akan jauh berkurang. Tatanan dunia multipolar benar-benar akan terjadi.

Negara Israel akan berada di ujung tanduk. Negara yang dibentuk sebagai “keluaran” genosida NAZI Jerman dan Perang Dunia II kehilangan kekuatan proteksionisnya, kecuali ia berubah haluan.

Sebaliknya, jika Iran kalah, Selat Hormuz akan tetap menjadi jalur laut terbuka. Negara Republik Islam pasca Revolusi Islam 1979 mungkin akan berakhir, diganti konsep kenegaraan lain. Kemudian Israel akan semakin kuat secara geopolitik di kawasan Teluk dan menjadi satu-satunya negara yang berkekuatan nuklir di kawasan tersebut; dan AS akan semakin kokoh sebagai negara adikuasa. Semakin mutlak mengendalikan perdagangan minyak di seluruh dunia, termasuk seutuhnya dari Timur Tengah.

Namun itu semua baru sebagian kecil kemungkinan tatanan global baru yang akan terbentuk pasca perang. Hal yang lebih mendasar dan jauh dari yang kita bayangkan saat ini mungkin saja akan terjadi.

Wallahu a’lam bishshawab._

Catatan Redaksi :

Artikel di atas dikirim penulis juga telah diterbitkan wartaindo.Id.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *