Jakarta Rp1News –Kesenjangan komunikasi antara masyarakat dengar dan komunitas Tuli masih menjadi tantangan besar di ruang publik.
Selama ini, beban adaptasi kerap dibebankan pada individu Tuli. Namun, sebuah inisiatif edukatif di SMK Negeri 47 Jakarta mencoba membalik cara pandang tersebut.
Demikian diungkapkan pakar komunikasi kesehatan Dr. Leila Mona Ganiem, M.Si, M.Si, CPR, CICS, dalam siaran pers yang diterima Rp1News, Rabu (6/5/2026).
Dikatakan, melalui program pelatihan komunikasi inklusif yang digagas oleh Leila Mona Ganiem bersama tim dari Universitas Mercu Buana dan Universiti Sains Islam Malaysia, siswa diajak memahami bahwa komunikasi adalah tanggung jawab bersama.
“Program ini mengusung konsep Personal Social Responsibility (PSR), yang menekankan peran aktif masyarakat dalam menciptakan interaksi yang setara,” ungkapnya.
Pelatihan tidak hanya berisi teori, tetapi juga praktik langsung—mulai dari pengenalan budaya Tuli dan sekilas bahasa isyarat dasar (BISINDO), termasuk etika berkomunikasi dengan teman tuli dan kurang dengar.
Siswa belajar bagaimana mengelola miskomunikasi, dan membangun interaksi yang lebih inklusif.
“Hasilnya cukup signifikan. Siswa menunjukkan peningkatan kepercayaan diri dalam berkomunikasi dengan individu Tuli serta kesadaran baru bahwa inklusivitas adalah bagian dari kompetensi profesional, ” paparnya
Kegiatan ini, sambungnya, menunjukkan hasil bahwa perubahan sosial bisa dimulai dari ruang kelas.
Ketika generasi muda dilatih untuk berbagi tanggung jawab dalam komunikasi, maka masa depan yang lebih inklusif bukan lagi sekadar wacana, melainkan langkah nyata menuju keadilan sosial.
Kesenjangan komunikasi dan fenomena “majority apathy” membuat individu tuli menanggung beban komunikasi sendiri.
Untuk mengatasinya diperlukan edukasi untuk membangun komunikasi yang lebih inklusif dan adil.
Dijelaskan Leila Mona, acara tersebut dilaksanakan di SMK Negeri 47 Jakarta sebagai lokasi utama kegiatan, pada 5 Mei 2026, sebagai bagian dari program International Joint Community Service (KLN).
Program pelatihan komunikasi inklusif bagi siswa vokasi yang mencakup pengenalan budaya Tuli, dasar bahasa isyarat (BISINDO), strategi communication repair, dan penerapan konsep Personal Social Responsibility (PSR) dalam interaksi sehari-hari
“Dilakukan melalui pendekatan partisipatif berbasis praktik, seperti simulasi interaksi, role-play, diskusi reflektif, serta latihan langsung penggunaan strategi komunikasi inklusif dan bahasa isyarat, dengan tujuan membangun kesadaran sekaligus keterampilan nyata,” urainya.
Bersifat struktural
Pada hemat Leila Mona , kesenjangan komunikasi antara masyarakat dengar dan komunitas Tuli masih bersifat struktural dan sosial, bukan sekadar masalah teknis komunikasi.
Salah satu kunci komunikasi efektif adalah penggunaan isyarat visual, seperti kontak mata, ekspresi wajah, pencahayaan yang baik, dan gestur tubuh yang mendukung pemahaman.
“Prinsip penting dalam interaksi: jangan memaksakan metode komunikasi, tetapi tanyakan preferensi individu Tuli (isyarat, tulisan, atau teknologi),” ujar Leila Mona.
Dampak berkelanjutan terlihat dari inisiatif siswa diharapkan seperti pembentukan “Deaf-Friendly Buddy” dan rencana layanan inklusif, yang menandakan pergeseran dari kesadaran ke aksi nyata.
Menurut data, Secara global, lebih dari 1,5 miliar orang mengalami gangguan pendengaran dan jumlah ini diproyeksikan terus meningkat, menjadikan isu ini sebagai tantangan inklusi global. (rel/hs)

