0 5 min 6 hrs

Jakarta, Rp1News — Dalam rangka memperingati Bulan Bahasa pada Oktober 2026 dan menyongsong Lima Abad Jakarta, Betawi Institute mencanangkan gerakan “Bela Betawi Liwat Literasi”.

Siaran pers yang diterima Rp1News, Senin (12/10/2026), menyebutkan
gerakan ini juga memfasilitasi terbitnya lima buku bertema sejarah, sastra, dan budaya Betawi, Batavia, Jakarta. Langkah membela Literasi Betawi ini sekaligus menepis stigma selama ini Kaum Betawi dianggap jauh dari dunia literasi.

“Bela Betawi juga artinya membela harkat dan martabat Betawi melalui literasi. Ini terkait pendokumentasian dalam bentuk buku,” ungkap CGR, panggilan akrab Chairil Gibran Ramadhan, penggagas acara ini

Menurut pegiat literasi Betawi itu, literasi jangan diartikan secara dangkal hanya sebagai kegiatan sebatas baca puisi di panggung keriaan.

Kenali juga sejarah dan budaya Betawi, Batavia, Jakarta melalui tulisan. Pendokumentasinya dalam bentuk buku adalah hal yang sangat penting, tegasnya.

“Buku menguasai ruang dan waktu atau ‘scripta manent, verba volant’ Insya Allah yang kami lakukan ini berguna bagi Betawi dan Indonesia.” ujar pendiri Betawi Institute dan Poestaka Betawi itu.

Menurutnya, kelima judul buku yang diterbitkan itu nantinya diharapkan menjadi koleksi kampus, instansi pemerintah, perkumpulan baca, hingga kedutaan besar di wilayah Tanah Betawi.

Buku-buku tersebut adalah “Seribu Tokoh Betawi: Jakarta dan Sekenanya” (ISBN: 978-602-17963-8-2), “Hikayat Pesastra: Jakarta dan Sekenanya” (ISBN: 978-602-17963-7-5), “Bang Jali Kondangan: Setangkle Sketsa Humor Betawi” karya Aba Mardjani (ISBN: 978-602-19280-4- 2), “Keadjaiban di Pasar Senen: Sekumpulan Ceritera di Jakarta 1950-1960” karya Misbach Yusa Biran (ISBN: 978-602-1244-01-2), “Dajoeng Sampan Dibawah Boelan” karya Chairil Gibran Ramadhan.

Menurut CGR, selama 500 tahun perjalanan Kota Jakarta, belum pernah ada satu pun tokoh Betawi yang menyatakan diri dan memiliki perhatian terhadap sejarah dan budaya Betawi-Jakarta melalui gerakan literasi dan membawa image baru atas Betawi menjadi intelek dan elegan.

“Kebanyakan dari mereka tujuannya adalah menjadi ketua ormas dan terjun ke politik. Tidak ada yang concern dan menjadi fasilitator gerakan literasi,” kilah CGR.

Padahal sejak lama dia berharap ada tokoh Betawi yang bergerak seperti Richard Oh sang pelopor Khatulistiwa Literary Award, atau seperti Denny JA yang memfasilitasi penerbitan buku, penyelenggaraan sayembara menulis, hingga memberi penghargaan bagi para penulis.

Namun bagi CGR harapan ini hanya khayalan belaka karena para orang kaya Betawi dan para tokoh politik, meski mengaku memiliki perhatian terhadap budaya Betawi namun nyatanya tidak ada yang menanggapi ajakan menjalankan gerakan Bela Betawi Liwat Literasi.

Dia mengungkapkan, di antara nama yang dihubungi namun tak pernah memberi tanggapan adalah Riano Purwonegoro (Nasdem, juga Ketum Bamus Betawi), Nuroji tokoh Betawi Depok dan Setyoko (Gerindra), Firman Subagio (Golkar), Fahira Idris selaku anggota DPD RI dari DKI Jakarta, hingga beberapa anggota Betawi Academia, sebuah perkumpulan para guru besar dan dosen senior berdarah Betawi.

“Demikian juga Rano Karno selaku Wagub DKI Jakarta sangat sulit dicolek,” ungkap CGR dengan nada masygul.

Tokoh tradisi tulisan Betawi

Meski kuat dalam Tradisi Lisan, sambung CGR, Betawi sebenarnya juga memiliki banyak tokoh-tokoh tradisi tulisan.

Dia mengutip tulisan Ahmadun Yosi Herfanda, wartawan dan sastrawan, dalam endorsement “Kembang Goyang” (Penerbit Padasan, 2011) yang menyatakan: “Di tengah kesunyian, sastra yang diusung para penulis berdarah Betawi atau Peranakan-Betawi ini diam-diam menyeruak di dalam kancah nasional diiringi kesahajaan aroma tanah kelahiran mereka.

Nama-nama penulis Betawi dari masa lampau seperti Sapirin bin Usman al-Fadli, Muhammad Bakir, Ahmad Beramka, Abdullah bin Muhammad al-Misri, Ahmad Insab, Ahmed Mujarrab, kemudian Oom Piet, Tio Ie Soei, Kwee Kek Beng, Muhammad Balfas, SM. Ardan, Firman Muntaco, N. Susy Aminah Aziz.

Sedangkan dari generasi terkini ada Aba Mardjani, Zeffry J. Alkatiri, dan Chairil Gibran Ramadhan. Mereka harus dicatat dalam sejarah sastra Indonesia khususnya kesusastraan Betawi.

Namun dalam perkembangannya etnis Betawi dikenal hanya kuat pada sisi tradisi lisan: Teater tradisional, pantun pada palang pintu, lagu gambang kromong, serta seni-budaya yang memanjakan mata sebagai hiburan pada acara-acara keriaan.

“Adapun tradisi tulisan, hadir secara senyap melalui pejuang-pejuang tunggal, tanpa dukungan pemerintah dan lembaga-lembaga kebetawian,” paparnya.

Padahal lembaga-lembaga itu dalam jargonnya menyebut karya tulisan sebagai hal yang diperjuangkan. Tidak mengherankan jika Kaum Betawi dikenal secara salah kaprah sebagai etnis yang hanya berkutat pada tari, silat, lawak, dan kuliner.

“Lebih celaka lagi, Betawi dikenal sebagai suku yang mengandalkan otot,” pungkas CGR menepis stigma yang disematkan pada Suku Betawi selama ini. (hs)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *