0 4 min 10 minutes

Rp1News – Avip Priatna kembali merebut perhatian penonton di Grote Zaal, Het Concertgebouw, Amsterdam.

Dalam siaran pers yang diterima Rp1News, Kamis (16/4/2026), disebutkan, penampilan kali ini menggenapkan kesuksesan konser sebelumnya di Ankara.

Avip Priatna bersama kelompok yang dipimpinnya, yaitu Jakarta Concert Orchestra dan Batavia Madrigal Singers, menggelar konser di Grote Zaal, Het Concertgebouw, Amsterdam (15/04/2026).

Tempat ini merupakan gedung konser legendaris yang sangat dipandang oleh para seniman musik klasik dan diakui sebagai salah satu gedung konser yang memiliki akustik terbaik di dunia.

Dalam konser yang berdurasi 90 menit tersebut, para penonton menikmati repertoar lagu-lagu nasional dan daerah Indonesia yang telah di komposisi ulang dalam bentuk variasi

naupun diarransemen untuk orkes simfoni.

Dalam konser ini, pianis muda Indonesia James Lai, yang kerap menjuarai kompetisi piano baik lokal maupun internasional, tampil bersama JCO menampilkan 9 variasi dari lagu Ismail Marzuki “Sepasang Mata Bola”. Variasi dalam format piano-concerto sepanjang lebih dari 20 menit karya Yazeed Djamin ini seolah menghipnotis sekitar 1200 penonton yang hadir.

Sementara itu, solois tenor Farman Purnama dan mezzo soprano Valentina Aman, bersama pemain biola cilik Raelene Pramana membuat banyak diaspora Indonesia yang hadir juga terharu ketika mereka menysjikan lagu Indonesia Pusaka.

Karya ini ditampilkan bersama dengan paduan suara Batavia Madrigal Singers. Raelene Pramana pemain biola berusia 11 tahun yang berdarah campuran Indonesia Belanda itu belum lama ini baru saja memenangkan kompetisi Biola di Belanda.

“Karena ini baru pertama kali orkestra dari Indonesia tampil di Concertgebouw. ​​​​Mudah-mudah dengan kegiatan seperti ini publik Belanda semakin mengenal karya-karya Indonesia yang tidak kalah indah dengan repertoar dari Eropa,” ungkap Dubes RI Den Haag, Amrih Jinangkung, yang turut menyaksikan konser tersebut.

Avip Priatna mengatakan bahwa sebenarnya ia berharap melalui tur ke Eropa ini, ia bersama JCO dan BMS dapat ikut mempromosikan karya simfonik Indonesia hasil kerja keras akumulasi-komposer berbakat dari Indonesia ini sehingga nantinya dapat diminati dan dimainkan juga oleh berbagai orkestra profesional dari mancanegara.

Avip memilih gedung konser ini bukan tanpa alasan. Het Concertgebouw dilengkapi teknologi akustik yang baik.

Gedung ini juga memiliki sejarah panjang serta nama besar gedung konser ini dimana banyak legenda legendaris dan konduktor besar dunia pernah tampil di sini.

Selain lagu bertema nusantara, JCO juga menampilkan karya simfonik asli seperti Rampak Melayu karya Arya Pugala Kitti dan Overture Fatahillah karya Fero Aldiansya Stefanus.

Selain itu, bersama BMS, JCO juga menampilkan aransemen lagu-lagu daerah antara lain Tak Tong Tong, Sik Sik Sibatumanikam, dan Benggong.

Duo pemain flute JCO yaitu Meta Ariana dan Marini Widyastari memainkan variasi lagu

Tokecang aransemen memainkan film Elwin Hendrijanto yang dibawakan secara interaktif dengan seluruh penonton yang hadir.

“Saya tidak menyangka konser Simfoni Nusantara bisa seru banget. Bangga rasanya melihat penonton juga memberikan apresiasi yang sangat hangat, ” kata Anggita Abdi, diaspora Indonesia yang bekerja di Amsterdam

Avip Priatna bersama dengan JCO dan BMS akan melanjutkan perjalanan turnya ke Basel, Swiss.

Konser di Basel tanggal 17 April tersebut akan jadi bagian dari rangkaian perayaan 75 tahun terbentuknya hubungan koneksi RI-Swiss. (rel/hs)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *