Jakarta, Rp1News – Ramah, spontan, dan peduli. Setidaknya, tiga kata ini layak disandangkan kepada sosok Luis Guillermo Arellano Jibaja, Duta Besar Ekuador untuk Indonesia.
Kesan itu terasa sejak penulis bersama pengurus Yayasan Hari Puisi kainnya hadir dalam acara malam Pertukaran Budaya Ekuador Indonesia dua tahun berturut-turut , dan 2025 dan 2026.
Selama acara berlangsung dia selalu menyalami tamunya dengan ramah. Dia juga mempersilakan mereka untuk mencicipi hidangan yang tersaji.
Keliling instansi dan komunitas
Setelah diterima Presiden Prabowo Subianto untuk menyerahkan surat kepercayaan bersama delapan duta besar negara lainnya, di Istana Merdeka, Jakarta, pada 06 Mei 2025 lalu, dia langsung melaksanakan tugasnya dengan melakukan kunjungan ke berbagai instansi pemerintah antara lain Kementerian Luar Negeri, DPR RI, BRIN, Institut Teknologi Bandung, Museum Tekstil, dan sejumlah lembaga dan instansi pemerintah dan pendidikan lainnya.
Namun, dalam melaksanakan tugasnya, Luis tak segan turun ke berbagai komunitas di level masyarakat.

Dubes Luis Jibaja sedang menyalami para tamu undangan.
Dia antara lain pernah memenuhi undangan Komunitas Literasi JB Edukreatif Indonesia dalam Festival Literasi Kreatif Nasional di Kawasan Senayan Jakarta, membuka pameran lukisan yang diselenggarakan para perupa dari Kelompok 7, serta hadir memberikan apresiasi pada perayaan Hari Puisi Indonesia.
Dengan Yayasan Hari Puisi (YHP) yang Juli ini memasuki HUT ke-14 dan rutin menggelar Hari Puisi Indonesia setiap tanggal 26 Juli, boleh dibilang Luis memiliki kedekatan yang agak khusus dengan YHP.
“Kemesraan” ini terjalin karena Danny Susanto, pria yang berprofesi penerjemah dan juga Wakil Ketua YHP, memiliki kedekatan dengan Kedutaan Ekuador.
Sekurangnya telah dua kali Luis Jibaja hadir memenuhi undangan YHP. Malah bukan hanya hadir, tapi juga bersedia naik panggung membacakan puisi karya penyair negaranya di panggung HPI.
Dia termasuk pihak yang mendukung dan menyambut Indonesia memiliki Hari Puisi sehingga seluruh rakyat Indonesia dapat merayakannya secara serentak bersama-sama.
Jalinan silaturahmi dan kedekatan Pak Dubes Luis Jibaja dengan YHP dibalasnya dengan mengundang balik para pengurus YHP untuk hadir dalam acara malam Pertukadan Budaya Ekuador Indonesia di kediaman Duta Besar Ekuador di Jakarta.
Dalam catatan penulis, dua kali sudah YHP diundang untuk memeriahkan acara malam kebudayaan Ekuador-Indinesia di kediamannya.
Pada 2025 silam Kedutaan Besar Ekuador mengundang YHP dan sejumlah pihak hadir dalam acara pertukaran kebudayaan antara Ekuador dan Indonesia.
Kedua belah pihak menyajikan kebudayan masing-masing mulai dari musik, tari, dan puisi. Dari pihak Indonesia perupa Ireng Halimun membalas sajian Dubes Ekuador dengan menyerahkan karyanya berupa lukisan diri Duta Besar Luis.
Kedutaan Besar Ekuador kembali menggelar Malam Pertukaran Budaya Ekuador-Indonesia sebagai bagian dari diplomasi budaya, pada 29 Juni 2026 lalu dengan tema “Tertulia Budaya Ecuador and Indonesia”.
Acara di penghujung bulan Juni itu terasa hangat dan meriah. Sejumlah pengurus YHP tampil ke panggung yang memberi kesan tersendiri bagi Pak Dubes yang hadir bersama Amanda, ibu kandungnyq, dan sejumlah staf kedutaan.

Luis Jibaya (tengah) didampingi staf sedang memberi sambutan jelang memberi penghargaan kepada Danny Susanto (berbusana adat Betawi)
Ariyani Isnamurti dan Ewith Bahar, misalnya, tampil membawakan puisi bertema persahabatan Indonesia-Ekuador. Dan Penyair Sihar Simatupang tampil membacakan puisi berbahasa Batak dengan ekspresif bertema lingkungan hidup.
Sedangkan Penyair Julia Basri dan Herman Syahara tampil bersama membawakan dramatisasi puisi Mantra Kelahiran Bayi karya Jefri Alkatiri dalam suasana budaya Betawi. Dan Willy Anna membawakan lagu Melayu berjudul Zapin.
Dalam kesempatan itu istri perupa Ireng Halimun menyerahkan karyanya berupa lukisan wayang yang dikerjakan selama acara berlangsung.
Kuliner khas Ekuador.
Di malam yang hangat dan penuh persahabatan itu, pihak tuan rumah memuliakan tamunya bukan saja dengan suguhan seni panggung yang unik tapi juga seni masakan yang khas.
Seperti dituturkan penerjemah Danny Susanto, malam itu puluhan tamu undangan yang memenuhi di Sammara Room, Anandamaya Residences, Jalan Sudirman, Jakarta, menyajikan tiga masakan khas Ekuador. Inilah nama-nama masakan itu:
Pertama, Seco de chivo. Ini adalah semur kambing khas Ekuador. Daging kambing dimasak lama dengan bawang putih, jintan, paprika, ketumbar, dan biasanya dicampur bir atau jus buah seperti naranjilla.
Kuahnya terasa kental dan kaya rempah, sehingga sekilas mengingatkan pada kari kambing, meskipun tidak menggunakan kunyit atau santan.
Kedua, Arroz amarillo, yang secara harfiah berarti “nasi kuning”. Warna kuning biasanya berasal dari achiote atau kunyit, lalu disajikan sebagai pendamping daging, ayam, atau ikan.
Ketiga, Ceviche de pescado yang disajikan dalam mangkuk-mangkuk mungil.Ini adalah hidangan ikan mentah atau setengah matang yang direndam dalam air jeruk nipis, sering ditambah sedikit cuka, bawang merah, tomat, dan ketumbar. Rasanya segar, asam, dan mirip acar.
Keunikan masakan ini, menurut Danny Susanto, biar pun jarak Indonesia Ekuador terbentang sejauh 18 ribu kilometer, namun jenis makanannya ada kemiripan baik dari rupa maupun rasa.
“Sugan teh yang Ceviche benar-benar beda, ternyata menurut istrinya Ireng, masakan itu mirip dengan makanan neneknya di Kebumen, Jawa Tengah,” tukas penerjemah lima bahasa asing itu dalam logat Sunda.
Memberi Penghargaan
Duta Besar Luis Arellano Jibaja memang seorang yang peduli. Dia tak segan memberikan apresiasi kepada pihak-pihak yang dinilainya telah berperan dalam menjalin diplomasi budaya antarkedua negara.
Salah seorang yang mendapat apresiasi itu penerjemah Danny Susanto. Karena kemampuanya berbahasa Spanyol sebagai bahasa yang digunakan di Ekuador, Danny dianggap berjasa dalam mempererat budaya kedua negara.
Atas nama negara Ekuador, Luis menyerahkan penghargaan berupa sebuah sertifikat dan medali kepada Danny sebagai pengakuan atas kontribusi luar biasanya dalam memperkuat dan melestarikan warisan budaya tak benda antara Ekuador dan Indonesia.
“Penghargaan ini untuk kita semua di Yayasan Hari Puisi,” ungkap Danny.
Pengajar di sejumlah perguruan tinggi itu mengaku terkejut sekaligus bahagia atas apresiasi tersebut.
Ia bertekad untuk lebih jauh menjembatani budaya antar bangsa, tidak hanya antara Indonesia dan Ekuador saja. Melainkan dengan lebih banyak negara lainnya.
“Karena kami percaya bahwa melalui puisi, melalui sastra, melalui budaya, kita dapat membangun dan memperkuat hubungan antarnegara, antarmasyarakat,” paparnya.
Dan tentu saja, lanjut dia, tujuannya adalah melangkah lebih jauh, tidak hanyadengan Kedutaan Ekuador, tetapi juga dengan kedutaan-kedutaan lainnya.
Alasannya, karena dirinya adalah ‘seorang yang berjiwa internasional”. Dirinya senang mempromosikan, khususnya puisi-puisi kita, ke tingkat internasional.
Dia tokoh lain yang menerima penghargaan adalah dari kalangan akademisi dan pengusaha.
Mereka adalah Holila Hatta dianugerahi penghargaan atas jasanya dalam memajukan kerja sama akademik kedua negara.
Penerima penghargaan lainnya adalah Hasfarm Bromelia, sebuah perusahaan pemasok bunga mawar, sebagai bentuk apresiasi atas upayanya mempromosikan kerja sama di bidang flora antara Ekuador dan Indonesia.
Menurut Luis Jibaja, penghargaan ini bertujuan untuk mengapresiasi warga Indonesia yang berjasa dalam budaya, ekonomi, dan gastronomi antara kedua negara.
“Dan setiap tahun, kami bertemu dengan mereka, para seniman, penyair, penulis, untuk saling berbagi pengalaman. Untuk berbagi pengalaman Ekuador dan Indonesia dalam bidang seni,” ujarnya.
Bagi Luis Jibaja, budaya adalah cara terbaik untuk memperkuat hubungan antarnegara. Faktor geografis bukanlah hal utama yang mendekatkan bangsa-bangsa, mengingat jarak yang membentang antara Indonesia dan Ekuador.
Tentu saja, termasuk puisi dan kuliner di dalamnya.(hs)

