0 4 min 11 hrs

Jakarta,Rp1News — Nasib lima jurnalis, M. Bagus Khoirunnas (Antara), Ari Basuki (Merdeka), Yudhis (iNews), Daus (Anadolu), Donal. Sampai Rabu (9/9/2026 masih tanda tanya.

Mereka disebutkan berangkat untuk meliput erupsi Gunung Anak Krakatau dengan menumpang sebuah speedboat dari Dermaga Pagedongan, Carita, Pandeglang pada Senin (7/9) pukul 14.00 WIB. Namun dilaporkan hilang kontak di perairan Selat Sunda.

Menurut laporan Basarnas Banten, komunikasi terakhir dengan salah satu jurnalis terjadi sekitar 14.42 WIB, sebelum akhirnya terputus sekitar 15.04 WIB.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten, Al Amrad, mengatakan, hingga Selasa (8/9/2026) tim SAR masih melakukan pencarian.

Ombak tinggi

Dari pengalaman penulis melintasi perairan itu, gelombang di perairan Selat Sunda seputar Gunung Anak Krakatau memang tak bisa dianggap sepele.

Kadang nampak tenang namun dalam tempo cepat bisa berubah perangai sampai setinggi tiga sampai lima meteran.

Memperhitungkan jam keberangkatan, cuaca, dan waktu kepulangan, sangat penting sebagai upaya preventif untuk mencegah musibah yang tak diharapkan.

Penulis pernah mengalami ketegangan saat meliput pada Perayaan HUT Letusan Krakatau ke-104, pada 1980-an dengan merapat di pantai Anak Krakatau yang sekarang sedang berulah itu.

Ketika itu belasan kapal kayu milik nelayan disertakan panitia pelaksana dalam acara karnaval laut. Kapal dilepas pagi hari sekitar jam 10.00 WIB dalam suatu upacara di Pantai Carita.

Kapal-kapal itu dijadwalkan singgah di kawasan Ujung Kulon seperti Pulau Peucang, Pulau Handeuleum, singgah di Pantai Anak Krakatau ,lalu kembali ke dermaga di Pantai Carita.

Setelah menikmati pesona pantai Anak Krakatau yang hanya dihiasi lahar dingin sampai ke tepiannya, entah karena pulangnya terlalu sore atau perubahan cuaca yang tiba-tiba, gelombang sekitar tinggi tiga sampai lima meter menghadang dan mengombang-ambing kapal kayu kami para jurnalis peliput.

Di dalam kapal kami terlempar-lempar dan melorot dari bagian belakang kapal ke bagian depan. Begitu berulang-ulang bikin mual dan jantung keder.

Jarak pandang yang terbatas karena hari mulai gelap membuat pengemudi harus menggunakan kakinya untuk mengendalikan kapal agar posisinya lebih tinggi dari kabin dan dia mendapat jarak pandang lebih jauh ke depan.

Detak jantung dan perasaan makin tak menentu saat mesin sempat mati karena baling-balingnya terlilit sampah.

Kami sekitar tiga atau empat orang jurnalis di kapal mengira kapal tak akan pernah sampai lagi di darat.

Namun, kapal merapat ketika langit makin gelap. Kami selamat mengunjak dermaga dengan tubuh serasa berayun dan wajah pucat.

Dan kini dapat merasakan pedihnya mata dan akibat muntahan debunya saat sampai ke kota saya tinggal di Bogor

Viralnya kabar hilang kontak kelima jurnalis peliput Gunung Krakatau di atas memang mencemaskan.

Melihat foto mereka sedang berada di kapal speedboat sebelum berangkat yang nampak kecil dengan duduk berhimpitan –bila dibandingkan dengan kapal kayu nelayan yang kami tumpangi dulu dengan ukuran tiga kali lebih besar, dapat dibayangkan ketidaknyamanan saat diayun gelombang tiga sampai lima meter.

Saya duga guncangan boat sangat terasa, bikin mual, dan menguji nyali.

Semoga kabar baik menyertai kawan-kawan lima jurnalis pewarta foto muda itu. (hs)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *