Jakarta, Rp1News — Di tengah suasana prihatin akibat kebijakan pemerintah yang melakukan pemotongan anggaran besar-besaran di berbagai sektor, Perpusnas (Perpustakaan Nasional) mempertahankan keberadaan Relawan Literasi Masyarakat (Relima) yang tersebar di seluruh wilayah kabupaten dan kota di pelosok Indonesia.
Hal itu ditandai dengan peluncuran Relima 2026 oleh Kepala Perpusnas RI Aminuddin Azis, di Ruang Teater Perpusnas Salemba, Jakarta Pusat, Senin (18/5/2026).
Acara yang diselenggarakan secara luring dan daring ini merupakan kelanjutan dari program peluncuran yang sama pada 2025 lalu sebagai salah satu program unggulan Perpusnas RI.
Penetapan Relima kali ini berlangsung secara daring dan luring. Sebagai simbol peresmian, Perpusnas hanya menghadirkan lima orang perwakilan Relima dari Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi untuk dilantik langsung di Jakarta dan selebihnya mengikuti melalui fasilitas zoom.
Acara penetapan ini ditandai dengan pemasangan rompi, topi, dan tanda pengenal Relima oleh Kepala Perpusnas E Aminudin Aziz dan para deputi.

Dalam sambutannya, Kepala Perpusnas E. Aminudin Aziz mengatakan, buku tidak akan memberikan manfaat apapun sampai dibaca dan menginspirasi pembacanya.
“Di sinilah Relima hadir sebagai aktivator dan katalisator gerakan literasi,” kata Aminudin Aziz, dalam sambutanya di Ruang Teater Perpusnas, Salemba, Jakarta Pusat, Senin (18/5/2026).
Acara Peluncuran Relawan Relima kali ini mengusung tema Kolaborasi untuk Gerakan Literasi Berdampak.
Tahun ini Perpusnas menetapkan sebanyak 360 relawan dengan perincian, 154 orang orang yang terpilih kembali dari program Relima tahun 2025 dan 206 relawan baru yang dinyatakan lulus hasil seleksi 2026.
Ke-360 Relima ini akan tersebar di 322 wilayah kerja penugasan Relima, tersebar di 251 kabupaten dan 71 kota.
Intervensi Perpusnas
Menurut Aminudin Aziz, keputusan menambah jumlah relawan merupakan pilihan strategis di tengah pemotongan anggaran hingga 48 persen pada tahun 2026.
Tahun sebelumnya, relawan yang ditetapkan berjumlah 180 orang, sedangkan tahun ini ditambah menjadi 360 orang.
Penambahan jumlah relawan sampai dua kali lipat dari tahun sebelumnya itu, menurut Aminudin Aziz, sebagai bentuk intervensi Perpusnas untuk mengawal dan memastikan pemanfaatan buku-buku yang telah didistribusikan ke seluruh 20 ribu lokus di seluruh wilayah Indonesia.
“Daripada buku-buku itu hanya menjadi koleksi yang tidak dimanfaatkan, maka harus dilakukan intervensi. Karena itu, akan bertambah jumlah pemanfaatannya. Kita memiliki 20.000 lokus yang mendapatkan bantuan bacaan bermutu,” tegasnya.
Aminudin menilai keberadaan Relima merupakan sebuah keniscayaan untuk mengaktifkan keberadaan buku melalui berbagai aktivitas literasi di masyarakat.
Selaku pemerintah dia menyampaikan apresiasi kepada seluruh Relima yang telah menunjukkan komitmen dalam gerakan literasi.
“Kami sampaikan apresiasi kepada para Relima yang telah berkomitmen untuk bersama-sama membangun fondasi kebiasaan membaca sehingga timbul budaya baca di masyarakat,” ungkapnya.
Ia menambahkan, Relima tidak bekerja sendiri, tetapi menjadi bagian dari jejaring besar yang melibatkan berbagai pihak, termasuk dinas perpustakaan daerah yang turut merekomendasikan para relawan.
“Anda semua tidak bekerja di ruang hampa tetapi bekerja dalam jejaring yang besar yang pertama jejaring itu adalah Dinas Perpustakaan, mitra lainnya seperti sekolah, masyarakat maupun pemerintahan,” imbuhnya.
Pada acara itu juga Aminudin Aziz melantik Gola A Gong sebagai Duta Baca Perpusnas 2026 dan meresmikan Aplikassi Sir5.
Relima Bogor
Dalam acara tersebut hadir sejumlah pejabat dari Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (Arpusda) i di wilayah Jabodetabek untuk mendampingi perwakilan Relima di wilayah kerja masing-masing
Relima Bogor yang diwakili Yuliyanti Basri, SE., M.Si., juga hadir dengan mendapat pendampingan dari Sekretaris Dinas Arpusda Bogor Muhammad Taufik Jaya Maulana, S.STP,MA, yang mewakili Kepala Dinas Taufik, SH.
“Acara ini luar biasa. Artinya, dari sini nampak kerja-kerja literasi memang harus dilakukan secara kolaboratif dan tidak bisa dikerjakan Arpusda saja yang memiliki keterbatasan jumlah sumber daya manusia.
“Adanya Relima sangat membantu karena dapat melakukan advokasi dan membantu bersinergi dengan kami. Karena mereka bekerja sampai ke akar rumput seperti Taman Bacaan Masyarakat,” ungkap Muhammad Taufik yang didampingi oleh Pustakawan Arpusda Bogor Edy Suryanto S.Sos.,M.I.Kom.
Sementata itu, sebagai Relima yang terpilih kembali mewakili Bogor tahun ini, Yuliyanti Basri menyatakan sebagai kehormatan.
“Kembali terpilihnya saya sebagai Relima dari Bogor untuk kedua kalinya merupakan sebuah kehormatan sekaligus amanah yang sangat berarti bagi saya,” ungkapnya.
Kepercayaan dari Perpusnas ini, katanya, menjadi motivasi untuk terus mengabdi, memperluas gerakan literasi, serta menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat melalui berbagai upaya penguatan budaya baca dan pembelajaran.
“Saya berharap, ke depan Relima dapat semakin kuat sebagai pemantik kolaborasi, penggerak perubahan sosial, dan jembatan lahirnya masyarakat yang cerdas, berdaya, serta literat ” harapnya.
Dia telah menyusun program untuk dikerjasamakan secara kolaboratif bersama Dinas Arpusda (Arsip dan Perpustakaan Daerah) Kota dan Kabupaten Bogor sebagai langkah memperkuat literasi masyarakat.
Program itu meliputi penguatan literasi berbasis komunitas di tingkat akar rumput, seperti aktivasi taman bacaan, kelas literasi, pelatihan menulis, literasi digital, hingga pendampingan anak (melalui Posyandu, PKK, PAUD) dan komunitas rumah ibadah dan karang taruna.
“Harapan saya, kolaborasi bersama Arpusda Bogor mampu dapat melahirkan gerakan literasi yang inovatif, inklusif, dan berkelanjutan, sekaligus menjadikan perpustakaan sebagai ruang tumbuh bersama, pusat pengetahuan, serta ruang budaya yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” pungkas Founder Komunitas Literasi JB Edukreatif Indonesia ini.(hs)

