JAKARTA, Rp1News — Pengacara senior Todung Mulya Lubis ungkap perbedaan mendasar antara pengertian “oligarki” dengan “orang kaya”.
“Oligarki harus dibedakan dengan orang kaya (super rich). Dalam badan oligarki ada kekuasaan yang menyatu tetapi dalam badan orang kaya belum tentu ada kekuasaan yang menyatu,” ungkap Todung dalam unggahannya di akun facebooknya, Kamis (11/6/2026).
Hal itu disampaikan Todung setelah dia mewawancarai Prof Richard Robison, guru besar Emiritus dari Murdoch University, yang dikenal luas di Indonesia karena buku yang ditulisnya bersama Vedi Hadiz, The Rise of Power.
Menurut Todung, wawancara selama 35 menit itu untuk keperluan podcast “Quo Vadis Indonesia” dan menarik karena menguraikan konsep oligarki yang merupakan sebuah sistem akumulasi kekayaan dengan mendayagunakan kekuasaan.
“Richard melihat Indonesia semakin dikuasai oleh oligarki yang memang jumlahnya semakin banyak walau yang besar tak banyak,”tegasnya
Selain konglomerat, lanjut dia, tentu ada negara yang bernaung dibawah bendera Danantara. Sedangkan dari daerah ada ‘Haji Isam’ dan yang lainnya yang menjadi oligarki yang kekuasaan dan kekayaannya sangat besar.
Mengutip Richard, Todung mengatakan bahwa distribusi kekayaan akan semakin sulit terjadi karena kekuasaan itu berpihak kepada oligarki.
“Sementara masyarakat sipil tak memiliki akses terhadap kekuasaan yang bisa membuat mereka memiliki ‘leverage’ untuk bisa menuntut lebih banyak ‘equality and justice,” pungkasnya (hs).

