Jakarta,Rp1News — Perayaan Hari Sastra ke-13 yang dirayakan setiap 3 Juli 2026 berlangsung meriah dengan tampilnya dua tokoh sastra senior Taufik Ismail dan Putu Wijaya, serta peluncuran enam buku sastra klasik ke dalam bahasa Inggris.

Taufik Ismail membaca puisi Kembalikan Indonesia Padaku
Pada acara bertajuk
Sasana Sastra: Membaca Karya Klasik Indonesia,di Graha Utama, Kompleks Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Senayan, Jakarta, pada 2 Juli 2026, Menteri Kebudayaan meluncurkan enam buku sastra klasik karya sastrawan Indonesia.

Aktor Putu Wijaya tampil total menampilan monolog Tekukur.
Keenam buku sastra yang berasal dari berbagai periode, genre dan latar yang berbeda itu adalah: Azab dan Sengsara karya Merari Siregar yang diterjemahkan oleh Annie Tucker; Kehilangan Mestika karya Fatimah Hasan Delais (Syarafina Vidyadhana).

Salah satu penampil operet dengan naskah yang dikutip dari isi buku sastra klasik yang diterjemahkan.
Selanjutnya buku Tanah Gersang karya Mochtar Lubis terjemahan Zoe McLaughlin; Dua Dunia karya NH Dini (Saut Situmorang); kumpulan puisi Balada Orang-orang Tercinta karya WS Rendra (Lara Norgaard); serta Surat Kertas Hijau karya Sitor Situmorang (Suzan Piper).

Pengurus HISKI Sastri Sunarti Sweeney membacakan deklarasi dukungan kepada Taufik Ismail sebagai calon peraih bidang sastra Nobel.
Acara peluncuran buku sastra klasik itu juga menghadirkan penyair Taufik Ismail sebagai penggagas Hari Sastra 13 tahun silam. Dia tampil membacakan puisi Kembalikan Indonesia Padaku.

Sebagian pengurus Yayasan Hari Puisi berbincang dengan Menteri Kebudayaan Fadli Zon seusia acara.
“Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang menganga,
Hari depan Indonesia adalah bola‐bola lampu 15 wat,
sebagian berwarna putih dan sebagian hitam,” kata Taufik pada puisi yang ditulismua di Paris lebih 50 tahun itu.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon memberikan konferesni pers didampingi Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Ahmad Mahendra dan Staf Khusus Bidang Diplomasi Budaya
Sementara aksi panggung sastrawan dan dramawan Putu Wijaya berhasil menggerakkan mulut ratusan tamu undangan untuk menirukan suara burung tekukur saat membacakan karyanya,”kurketuk…kurketekuk…kurketuk…”

Clara Shinta, putri penyair WS. Rendra dikelilingi fansnya.
Lewat karya monolognya itu, Pitu Wijaya mengisahkan tentang seekor burung perkutut yang diberi kebebasan untuk dilepas pemiliknya , malah menolak karena si burung takut menghadapi kenyataan pahit di luar sana.
Tekukur itu sudah terlanjur keenakan dipelihara dengan segala kemudahannya. Pemilik memaksa burung itu pergi. Namun, alih-alih terbang bebas, burung menabrakan dirinya ke dinding sampah mati.
Secara umum acara peluncuran buku ini nampak dikemas serius dalambernuansa klasi. Para penampil muda berhasil menghadirkan seni akting dan musik kolaboratif yang intens.
Hal ini nampak pada semacam operet singkat yang ceritanya dikutip dari enam isi buku yang diterjemahkan.
Dengan dukungan perpaduan properti panggung sederhana seperti peti dan tampilan multimedia, kemasan acara ini mampu mengantarkan pesan isi buku kepada penonton.
Dalam kesempatan itu juga pengurus Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) Sastri Sunarti Sweeney membacakan deklarasi dukungan kepada sastrawan Taufik Ismail sebagai calon peraih Nobel Sastra.
Dalam sambutannya, Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan bahwa penerjemahan enam buku sastra klasik ini bertujuan untuk mengantarkan sastra klasik Indonesia ke pembaca global.
Program penerjemahan ini akan terus berlanjut dengan memilih karya-karya klasik dan moderen lainnya yang berhasil menggapai pencapaian tertentu di eranya. (hs)

