0 6 min 1 hr

Jakarta, Rp1News – Dinas Arsip dan Perpustakaan (Disarpusda) Kota Bogor terpaksa membatalkan sesi diskusi Buku berjudul “Mencari Muhammad” Karya Febi Indriani, dalam acara Pekan Buku Sastra yang belangsung Sabtu dan Minggu (19 dan 20 September 2026) di ruang Auditorium Disarpusda Kota Bogor.

Menurut Kepala Bidang Disarpusda Kota Bogor Mochammad Yaffies.Md. LLAJ, SH yang dihubungi Rp1News, Senin (21/9), pihaknya didatangi tiga orang yang mengaku dari FPI (Forum Persaudaraan Islam) yang meminta agar sesi diskusi buku tersebut dibatalkan.

Alasannya, teks yang ditulis diposter acara tersebut mereka nilai “ekstrem” dengan menyebut nama Muhammad dan tidak ada ahli agama (ulama) sebagai pembahasnya.
“Ada nama Muhammadnya di dalam buku tersebut, tidak ada pemuka agamanya dalam membedah bukunya, di cover bukunya pun terlalu ekstrim, menurut mereka,” kata Yaffies mengutip keberatan FPI.

Pihak perpustakaan dan panitia kemudian memberikan penjelasan kepada FPI bahwa itu adalah acara bedah buku sastra.

Namun pihak FPI tetap keberatan. Andai sesi diskusi tersebut dilanjutkan pihak FPI akan menggerudug Disarpusda dengan membawa massa.

“Akan terjadi kegaduhan bilamana bedah buku tetap berlangsung,” kata Yaffies menyebut ancaman pihak FPI.

Dengan pertimbangan mencegah konflik lebih luas, pihak Diarpusda mengambil keputusan membatalkan sesi diskusi buku tersebut sedangkan sesi lain dalam acara dapat terus berlanjut.

“Penyelesaiannya adalah terpaksa dengan berat hati kami pihak perpustakaan untuk sesi bedah buku kami hilangkan untuk menghindari adanya konflik,” kata Yaffies.

Dengan terjadinya masalah tersebut, tambah Yaffies, pihak Diarpusda akan lebih selektif dan hati-hati dengan terlebih dulu mengkaji lebih dalam terhadap setiap pengajuan peminjaman ruang auditorium perpustakaan kota Bogor.

“Akan dikaji lebih dalam terlebih dahulu dan ada pembatasan-pembataaan penggunaan auditorium,” tegas Mochammad Yaffies.

Keberatan panitia

Merespon adanya tekanan yang berujung pembatalan sesi diskusi buku karya Feby Indriani, Panitia Pekan Sastra Bogor membagikan siaran pers yang berisi keberatan dan kronologis pembatalan sesi diskusi, Sabtu (19/9/2026).

Panitia Pekan Buku Sastra menyatakan mengutuk pembatalan sesi diskusi sastra dalam rangkaian kegiatan mereka setelah mendapat keberatan dan penolakan dari organisasi masyarakat Front Persaudaraan Islam (FPI).

Menurut panitia, pembatalan tersebut terjadi setelah panitia mendapat permintaan untuk menjelaskan sesi diskusi bertajuk “Memburu Muhammad: Bagaimana Cerita Mengganggu Kita Memahami Agama”.

Panitia menilai pembatalan itu merupakan preseden buruk bagi kehidupan sastra di Kota Bogor karena terjadi di tengah tekanan dan ancaman pembubaran acara.
Pekan Sastra Bogor menjelaskan, persoalan bermula pada Kamis (17/9/2026), ketika panitia dihubungi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Bogor dan diminta menghadiri pertemuan pada keesokan harinya.

Pada Jumat (18/9/2026) pukul 10.00 WIB, panitia bertemu dengan pihak perpustakaan. Pertemuan tersebut juga dihadiri Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Bogor serta tiga orang yang disebut panitia sebagai perwakilan Front Persaudaraan Islam.

Dalam pertemuan tersebut, panitia diminta menjelaskan isi dan konteks sesi diskusi yang membahas buku “Memburu Muhammad”.

Dikatakan, panitia telah menjelaskan bahwa sesi tersebut merupakan bagian dari kegiatan sastra yang membahas karya sastra serta bagaimana cerita dapat membentuk cara seseorang memahami suatu persoalan.

Panitia juga menyatakan telah membuka ruang dialog dengan memberikan buku yang akan dibahas untuk dibaca dan dipahami bersama.
Namun, menurut panitia, pihak FPI tetap mempersoalkan judul sesi tersebut. Mereka menilai pembahasan mengenai Muhammad telah masuk ke ranah agama, sementara pembicara dalam diskusi tersebut bukan pemuka agama.

Panitia menyebut pihak FPI kemudian menyatakan bahwa agama tidak seharusnya dibahas dengan menggunakan alasan sastra.

Dalam pertemuan itu, menurut keterangan panitia, juga muncul pernyataan bernada ancaman serta ancaman akan menggeruduk lokasi apabila diskusi tetap digelar.

Pada Jumat sore sekitar pukul 17.00 WIB, panitia juga membuka dialog melalui Google Meet bersama perwakilan Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Bogor serta penulis Feby Indirani.

Dalam pertemuan daring tersebut, panitia menyampaikan kronologi pertemuan dengan pihak FPI sekaligus mendengarkan masukan dari pihak-pihak yang hadir.

Setelah mempertimbangkan situasi keamanan, panitia akhirnya memutuskan membatalkan sesi diskusi tersebut.
Dituduh “anarko”
Pekan Sastra Bogor menyatakan keputusan membatalkan acara bukan keputusan yang mudah.

Selain adanya ancaman penggerudukan, panitia menyebut mereka juga mendapat pelabelan sebagai kelompok ”anarko” dan sebagian anggotanya menjadi sasaran pihak yang mereka identifikasi sebagai FPI.

Panitia menilai kondisi tersebut berpotensi menimbulkan risiko terhadap keselamatan panitia, peserta, pengisi acara, serta komunitas dan kolaborator yang terlibat dalam Pekan Sastra Bogor.

“Ketika sebuah ormas dapat membatalkan diskusi sastra hanya dengan ancaman, kebebasan berekspresi semua orang ikut terancam, bukan hanya kami,” tulis panitia.

Panitia juga menyatakan tetap menolak praktik pencekalan yang, menurut mereka, telah membuat keputusan pembatalan diambil dalam situasi tekanan.

Didukung Kementerian Kebudayaan

Acara Pekan Sastra Bogor diselengarakan oleh Komunitas Lapak Baca Bogor pada 19 dan 20 September 2026.

Acara itu mendapat dukungan penuh dari Kementerian Kebudayaan RI sebagai bagian dari program pemajuan komunitas komonita sastra.

Selain menampilkan diskusi buku sastra, acara ini dimeriahkan oleh panggung rekreatif dan pemutaran film yang merupakan hasil kolaborasi bersama Komunitas Film Bogor, Kolektips Cinema Cigombong, Bale Film, dan Agrimovie.

Di dalam poster yang disebarkan melalui Ig Pekan Sastra Bogor, disebutkan nama-nama pembicara yang akan tampil yakni Okky Madasari, Bardan, Langgeng Prima, Zen Sartre, Teguh Tri Fauzi, Zera Yudhistira, Moxhm Aldy MA, Deden Fahmi Fadlan, Eka Archina, Tenny Permana, A. April, Yulia Nasari, dan Feby Indriani.

Melalui seluruh rangkaian tersebut, panitia berharap Pekan Sastra Bogor 2026 dapat menjadi ruang perjumpaan antara sastra dan kehidupan sehari-hari masyarakat.

“Lebih dari sekadar agenda tahunan, kegiatan ini menjadi kesempatan untuk melihat kembali perjalanan sastra di Bogor sekaligus membicarakan ke mana ekosistem tersebut akan bergerak,” sebut panitia.(hs)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *