Jakarta, Rp1News – Transisi energi jangan hanya bicara soal listrik yang lebih hijau. Yang paling penting: apakah hidup warga menjadi lebih baik?
Demikian diungkapkan Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Melki Lana Leka, dalam akun pribadinya, Jumat (25/9/2026).
“Hari ini saya membawa suara NTT dalam Forum Dialog Nusantara XXII di Jakarta, membahas Keadilan dalam Transisi Energi Menuju Indonesia Emas 2045,”kata Melki.
Bagi masyarakat pulau-pulau kecil, katanya, ukurannya sederhana: listrik menyala, anak bisa belajar, puskesmas bisa menyimpan obat, dan UMKM bisa bekerja dengan biaya yang terjangkau.
NTT punya potensi energi terbarukan yang besar. Tetapi energi harus hadir andal, terjangkau, dan memberi manfaat nyata.
Melki menyampaikan tiga hal penting. Pertama, transisi energi harus memperbaiki kualitas layanan listrik.
Kedua, pengembangan panas bumi di Flores harus berjalan dengan menghormati masyarakat, tanah, air, dan ruang hidup mereka.
Ketiga, NTT adalah provinsi kepulauan. Tidak mungkin satu resep energi cocok untuk semua pulau. Kita membutuhkan solusi yang sesuai dengan karakter Flores, Sumba, Timor, Alor, Rote, dan pulau-pulau kecil lainnya.
Khusus untuk panas bumi di Poco Leok dan Wae Sano, dirinya percaya bahwa kepercayaan tidak lahir dari satu kali sosialisasi.
Dia menjelaskan, warga harus didengar sejak awal. Data harus terbuka. Persoalan tanah dan hak masyarakat harus jelas.
Dampak terhadap air dan lingkungan harus dapat dipantau. Dan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar harus nyata.
Transisi energi juga harus membuka peluang baru bagi NTT ,yakni usaha tenun, pertanian, perikanan, pariwisata, penyediaan air, hingga tumbuhnya tenaga kerja dan teknisi lokal.
Menurut Melki, pertanyaannya bukan hanya berapa megawatt energi terbarukan yang bisa kita bangun.
Pertanyaan yang lebih penting adalah setelah energi itu hadir, apa yang berubah dalam kehidupan rakyat?
“Itulah ukuran keadilan energi yang ingin terus kami perjuangkan dari NTT menuju Indonesia Emas 2045,” ungkapnya.
NTT, pungkas Melki Lana Leka, siap menjadi bagian dari transisi energi Indonesia. Bukan hanya sebagai tempat sumber energinya berada, tetapi sebagai daerah yang ikut merasakan manfaatnya. (hs)

