Bogor, Rp1News –Siapa bilang belajar menulis kreatif itu sulit. Tanyakan kepada Mutiara Rahayu, siswi kelas X SMK Nurul Hikmah, Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
“Awalnya saya kira menulis itu sulit. Setelah mengikuti acara ini dua hari ternyata menulis itu mudah. Saya sudah bisa menulis seperti yang dianjurkan mentor. Hasilnya sudah saya serahkan untuk dinilai bersama tulisan peserta lainnya,” tutur Mutiara.

Mutiara terus terang, ketika pertama menyampaikan keinginannya untuk mengikuti pelatihan menulis dia mendapat ujian yang dirasanya cukup berat dari keluarga dan teman-temannya. Ayahnya tidak mengizinkannya karena harus dua hari meninggakan rumah.
Teman-teman di grup WhatsApp ada yang merendahkannya dengan mengatakan,”ngapain ikut acara itu, emang kamu bisa nulis. “.
Namun, dia membulatkan tekad untuk tetap berangkat dengan meyakinkan ayahnya. Dia merasa yakin keputusan yang diambilnya tepat.

Setelah dua hari mengikuti pelatihan itu dia mengaku mendapat mentor penulisan yang komunikatif sehingga kedepannaya dia akan terus belajar menulis.
Kebahagiaan yang sama diakui oleh Fahri Hidayatullah, Duta Baca yang juga siswa SMA Negeri 2 Kota Bogor.
Dia merasa terkesan setelah dua hari mengikuti pelatihan penulisan kreatif bersama Relima Lokus Kota Bogor.
Utamanya saat dia diwajibkan memilih bahan bacaan yang disediakan penyelenggara, menganalisis, sampai menulis cerita baru berdasarkan bahan bacaan itu.
Hasilnya berhasil menulis sebuah cerpen kearifan lokal Kota Bogor yang sudah diserahkan kepada penyelenggara untuk dinilai.

“Proses ini sangat menarik. Kehadiran Relima Lokus Kota Bogor berdampak langsung kepada saya sehingga ingin terus meningkatkan kemampuan literasi. Bukan hanya membaca namun juga menciptakan sebuah karya baru sebuah cerpen,” paparnya.
Didukung Dispusipda Kota Bogor
Acara “Kajian Dampak Menulis Berbasis Bacaan Bermutu Bersama Relima (Relawan Literasi Masyarakat) Perpusnas RI-Lokus Kota Bogor” (Dari Cerita Terbitlah Karya, Pelatihan Menulis Kearifan Lokal Bogor) berlangsung selama dua hari pada Sabtu dan Minggu (12-13 September 2026) itu ikuti 75 siswa dari 25 sekolah SMP, SMA , dan SMK/sedrajat dari Kota Bogor.
Lima sekolah lainnya berasal dari Kabupaten Bogor yang tidak memiliki Relima Perpusnas RI.
Salah satu proses penting program ini adalah setiap peserta dipersilakan memilih, membaca, dan menganalisis isi buku yang telah disiapkan Relima Perpusnaa RI.
Berdasarkan bacaan itu kemudian peserta harus membentuk ide cerita baru, menuliskannya, lalu mempresentasikan karya mereka di depan peserta lain.
Acara yang mendapat sambutan hangat dari guru pendamping dan siswa itu dapat terlaksana berkat dukungan penuh dari Disarpusda Kota Bogor dan kerjasama dengan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Putra Bangsa dengan Koordinator Pitriyani.
Dalam paparannya bertajuk Menjadi Penulis Produktif,
Pustakawan Dispusipda Kota Bogor Edy Suryanto memberikan materi bertajuk Menjadi Penulis Produktif.
Menurut Edy, untuk memantik semangat menulis kita harus mencari tema yang paling menarik perhatian.
“Kita cari tema apa yang bisa membuat kita lebih semangat lagi dalam menulis. Tapi yang pasti adalah mulai dulu. Mulailah menulis,” pesannya.
Bagi yang benar-benar pemula, kata Edy, cobalah dengan teknik “free writing” atau menulis bebas.
Caranya, tulis apa yang terlintas dalam pikiran. Mau nyambung atau tidak, tulis saja selama misalnya 10 sampai 15 menit.
“Tulis saja dulu apa yang kita pikirkan. Untuk latihan, mungkin hari ini nulisnya hanya 5 kalimat, besoknya tambah 5 kalimat dan seterusnya,” papar Edy.
Untuk menjadi penulis, katanya, kita harus mengisi memperkaya wawasan dengan bacaan. Semakin banyak yang dibaca semakin banyak yang bisa dituangkan.
Kemudian, apa yang dialami sejak mulai bangun tidur sampai menjelang tidur lagi juga bisa menjadi bahan tulisan.
Lalu, apa yang kita lihat dan rasakan pun banyak yang bisa ditulis.
“Saya pernah membaca sebuah buku puisi yang salah satunya tentang jerawat. Berarti semua hal itu bisa kita tuliskan,” ujarnya.
Ide tulisan itu bisa dari mana saja untuk membangun kebiasaan menulis. Bagi yang suka up-date status di fb, usul Edy, jangan cuma mengunggah foto tapi juga sertakan narasi panjang untuk melatih kebiasaan menulis.
“Tips utama menulis adalah jangan pernah merasa tulisannya jelek, takut salah, atau tulisannya nggak penting. Yang penting, jangan takut dan malas menulis. Menulis itu perlu latihan terus seperti berenang. Tidak bisa instan,” papar Edy.
Festival Literasi Kreatif Kota Bogor
Kepala Bidang Dispusipda Kota Bogor Mochammad Yaffies mengapresiasi kegiatan menulis kreatif yang diselenggarakan Disarpusda Kota Bogor bersama Relima Perpusnas RI, Duta Baca, dan TBM Putra Bangsa ini.
“Saya mengapresiasi tingginya minat pelatihan menulis kreatif dari Kota dan Kabupaten Bogor. Pesan saya jangan berhenti sampai di sini tapi terus kembangkan,” kata Yaffies dalam sambutan pembukaan.
Menurut dia, kegiatan membaca dan menulis sangat baik bagi pengembangan mental dan pribadi para peserta.
“Terima kasih banyak saya haturkan kepada Perpusnas Republik Indonesia bahwa Kota Bogor diberikan suatu kegiatan yang dilakukan oleh Relima,” katanya.
Sementara itu Relima Perpusnas RI lokus Kota Bogor Yuliyanti Basri menyatakan terimakasih kepada Disarpusda Kota Bogor yang telah memberikan dukungan dan fasilitas pada acara tersebut.
Sesuai pesan Mochammad Yaffies untuk melanjutkan acara ini, dia menyatakan siap menggelar acara Festival Literasi Kreatif Kota Bogor pada Oktober 2026.
“Saya mohon doa. Jika tidak ada aral melintang, di masa akhir periode kedua sebagai Relima Perpusnas RI Lokus Kota Bogor nanti, saya ingin membuat kenangan manis dengan menyelenggarakan Festival Literasi Kreatif Kota Bogor dengan jumlah peserta yang lebih banyak dan beragam dari berbagai wilayah Indonesia. Sehingga dampaknya pun lebih besar,” ungkapnya
Untuk itu dia masih akan menjalin kolaborasi dengan Dispusipda Kota Bogor, TBM, sekolah, dan lembaga serta komunitas terkait lainnya.
“Di era yang penuh tantangan sekaligus peluang sekarang ini, hampir tidak ada pekerjaan yang bisa dikerjakan seorang diri. Spirit kolabarasi harus terus dikobarkan untuk menghadapi berbagai kendala, termasuk dalam literasi,” pungkas Yuliyanti Basri. (hs)

