0 6 min 1 hr

DI ERA digital hari ini, informasi ekonomi bergerak jauh lebih cepat dibanding masa lalu. Ketika nilai dolar Amerika Serikat naik terhadap rupiah, kabarnya langsung menyebar melalui media sosial, TikTok, YouTube, WhatsApp grup keluarga, hingga warung kopi di desa-desa.
Namun pertanyaannya: apakah kenaikan dolar benar-benar hanya berdampak pada pengusaha dan orang kota?

Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut bahwa kenaikan dolar tidak terlalu berdampak bagi masyarakat desa memunculkan diskusi luas di ruang digital Indonesia.

Sebagian masyarakat setuju karena warga desa memang tidak memegang dolar. Namun sebagian lain menilai dampaknya tetap terasa, meskipun tidak secara langsung.

Di sinilah pentingnya memahami hubungan antara komunikasi digital, ekonomi global, dan kehidupan sehari-hari rakyat kecil.

Desa Hari Ini Sudah Terhubung dengan Dunia Global

Dulu, desa mungkin dianggap jauh dari dinamika ekonomi internasional. Tetapi sekarang kondisinya berbeda. Internet dan digitalisasi telah menghubungkan desa dengan pasar global.

Hari ini warga desa membeli barang lewat marketplace, menonton harga pangan melalui media sosial, menggunakan pupuk dan pestisida berbahan impor, membeli BBM yang dipengaruhi harga minyak dunia, bahkan berdagang hasil panen melalui platform digital.

Artinya, meskipun masyarakat desa tidak membeli dolar secara langsung, kehidupan ekonominya tetap dipengaruhi oleh naik-turunnya nilai dolar dunia.

Dalam ilmu komunikasi digital, kondisi ini disebut sebagai _network society_, yaitu masyarakat yang kehidupannya saling terhubung melalui jaringan informasi global. Ketika ekonomi dunia bergerak, efeknya dapat sampai ke desa hanya dalam hitungan hari.

*Mengapa Harga Warung Desa Bisa Ikut Naik?*
Banyak warga desa bertanya: “Kalau saya tidak punya dolar, kenapa harga barang tetap naik?”

Jawabannya sederhana: karena banyak barang sehari-hari bergantung pada bahan baku impor atau distribusi nasional.

Contohnya tahu dan tempe bergantung pada kedelai impor, mie instan menggunakan gandum impor, pupuk dipengaruhi harga bahan baku global, ongkos angkut dipengaruhi BBM, barang elektronik menggunakan komponen impor.

Saat dolar naik: biaya impor meningkat, biaya transportasi naik, harga barang ikut naik, akhirnya daya beli masyarakat turun.
Efek inilah yang sering tidak terlihat secara langsung, tetapi dirasakan perlahan oleh masyarakat bawah.

Komunikasi Politik di Era Media Sosial Sangat Sensitif

Di era digital, satu pernyataan pejabat bisa langsung menyebar ke jutaan orang dalam hitungan menit. Potongan video pendek dapat menjadi viral, diperdebatkan, bahkan dipelintir sesuai kepentingan tertentu.

Karena itu, komunikasi politik hari ini bukan hanya soal “apa yang dikatakan”, tetapi juga “bagaimana masyarakat menafsirkan pesan tersebut.”

Dalam teori komunikasi modern, publik tidak lagi menjadi penerima informasi pasif. Masyarakat sekarang aktif memberi komentar membuat opini, menyebarkan ulang, bahkan membangun narasi tandingan.

Akibatnya, pernyataan ekonomi yang sebenarnya dimaksudkan untuk menenangkan masyarakat bisa berubah menjadi kontroversi jika dianggap tidak sesuai dengan kenyataan hidup rakyat.

Rakyat Desa Justru Kelompok Paling Rentan

Kelompok paling terdampak dari kenaikan harga biasanya bukan pengusaha besar, melainkan masyarakat berpenghasilan tetap dan terbatas.

Pengusaha besar kadang masih bisa menaikkan harga, menyimpan aset dolar, dan melakukan strategi bisnis tertentu.

Tetapi bagaimana dengan kondisi rakyat kecil yang penghasilannya tetap, tabungan terbatas, dan pengeluaran terus naik? Akibatnya uang belanja makin sempit, kualitas makanan menurun, utang di warung meningkat, kebutuhan pendidikan dan kesehatan sudah tentu tertekan.

Inilah yang dalam ilmu komunikasi pembangunan disebut sebagai _silent impact_— dampak yang tidak langsung terlihat, tetapi perlahan memengaruhi kualitas hidup masyarakat.

Media Sosial Membentuk Cara Rakyat Memahami Ekonomi

Dulu masyarakat memahami ekonomi dari televisi atau koran. Sekarang pemahaman ekonomi banyak dibentuk oleh media sosial.

Masalahnya, media sosial sering menyederhanakan persoalan rumit menjadi potongan kalimat pendek.
Akibatnya, masyarakat mudah terpecah: ada yang langsung percaya, ada yang langsung marah, ada juga yang menyebarkan tanpa memahami konteks.

Karena itu, literasi digital menjadi sangat penting. Masyarakat perlu belajar membedakan mana opini dan fakta, mana narasi politik dan data ekonomi, dan mana hiburan digital dan realitas lapangan.

Desa Bukan Lagi Penonton namun Penggerak Ekonomi Nasional

Salah satu perubahan terbesar di era digital adalah hilangnya batas antara kota dan desa dalam arus informasi ekonomi.

Hari ini: harga cabai di desa bisa dipengaruhi cuaca global, harga pupuk dipengaruhi nilai tukar dolar, harga beras dipengaruhi distribusi nasional, bahkan isu ekonomi internasional bisa memengaruhi warung kecil di kampung.

Artinya, desa bukan lagi penonton. Desa sudah menjadi bagian aktif dari sistem ekonomi nasional dan global.

Kenaikan dolar mungkin tidak dirasakan secara langsung oleh masyarakat desa dalam bentuk transaksi mata uang asing. Namun dampaknya tetap hadir melalui kenaikan harga kebutuhan sehari-hari, biaya pertanian, transportasi, dan turunnya daya beli masyarakat.

Di era komunikasi digital, pemahaman ekonomi rakyat tidak lagi dibentuk hanya oleh data, tetapi juga oleh cara pemimpin, media, dan media sosial menyampaikan pesan kepada publik.

Karena itu, komunikasi publik yang sederhana, jujur, dan dekat dengan realitas rakyat menjadi sangat penting.

Sebab bagi masyarakat desa, ekonomi bukan sekadar angka di layar televisi atau grafik media sosial. Ekonomi adalah harga beras di warung, biaya pupuk di sawah, dan kemampuan keluarga untuk bertahan hidup dari hari ke hari.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *