Oleh Imam B.Prasodjo, Sosiolog
DUA buku tebal kumpulan tulisan para sahabat, sastrawan, seniman, budayawan, akademisi hingga pejabat, terkait Asrul Sani dicetak.
Hari ini Rabu, 10 Juni 2026 acara diadakan, yakni Peluncuran Buku dan Seminar Nasional Seabad Setahun Asrul Sani (1925–2026).
Saya hadir di tempat Acara: Perpustakaan Nasional, Jl. Medan Merdeka Selatan. Saya ikut nibrung bicara, tetapi bukan terkait langsung dengan karya karya Asrul Sani sebagai sastrawan, penyair, novelis, dan sutradara film.
Hanya sebuah tulisan ringan saya untuk disisipkan dalam buku itu. Berikut tulisan itu sekedar pelengkap untuk meramaikan dan memberi penghargaan pada Asrul Sani, putera bangsa yang selama hidupnya telah memberi makna penting terhadap beragam peristiwa historis melalui karya karya seni dan sastra.
ASRUL SANI, SASTRAWAN ”TERKAYA”
Pada sore hari, 17 Maret 2026, telepon genggam saya berdering. Saya tak segera mengangkat telepon karena perhatian saya saat itu tertuju pada berita di televisi.
Serikat Pekerja Kampus dan Asosiasi Dosen Indonesia mengajukan permohonan ke Mahkamah Konstitusi untuk mengubah UU No. 14 Tahun 2005, khususnya pasal 52 ayat 1, 2, dan 3 yang dinilai tidak menjamin kesejahteraan ekonomi dosen.
Pasal ini dianggap gagal memberikan kepastian hukum atas imbalan gaji yang memadai dan adil (Perkara No. 272/PUU-XXIII/2025).
Saat telepon berdering, saya masih terus terfokus menyimak berita itu. Namun, telepon tak henti-henti berdering, akhirnya saya angkat telepon itu.
Rupanya, suara penelpon saya kenal baik. Itu suara Mutiara Sani, seorang aktris ternama di tahun 1970an -1980an. Dengan kalimat meyakinkan, Mutiara Sani meminta saya membuat tulisan singkat terkait kehidupan almarhum suaminya, Asrul Sani, yang pada 10 Juni 2026 akan genap 100 tahun.
Asrul Sani sebagai sastrawan kreatif, salah satu pelopor Angkatan ’45, memang pantas dikenang, dihargai, dan karya karyanya harus selalu menjadi sumber inspirasi, khususnya bagi generasi muda.
Beragam karya Arsul Sani, baik berupa puisi, esai, ceritera pendek, drama hingga film, merekam pikiran dan kehidupan yang ia alami sejak masa awal kemerdekaan hingga menjelang beliau meninggal di tahun 2003.
Menanggapi permintaan Mutiara Sani, awalnya saya menolak. Saya merasa, saya bukan orang yang tepat untuk menulis perjalanan hidup suaminya, Asrul Sani.
Apalagi mengomentari karya-karyanya. Namun, berkat kegigihan dan kecanggihan aktris Mutiara Sani dalam merayu, akhirnya saya menyanggupi untuk sekedar menulis tulisan ringan untuk menghormati sastrawan Asrul Sani.
Saya pun ingin mengaitkan tulisan ini dengan perhatian saya saat ini, yakni perlunya perjuangan yang harus dilakukan agar negara memberikan jaminan kesejahteraan hidup dosen, dan kemudian diperluas pada jaminan kesejahteraan para sastrawan dan seniman.
Dalam logika saya, bagaimana mungkin peradaban bangsa dapat berkembang bila orang-orang kreatif seperti sastrawan dan seniman, kesejahteraan hidupnya diabaikan. Orang pasti tahu, sastrawan, seniman, dramawan adalah intelektual yang bekerjanya tak mengenal waktu.
Untuk menjadi sastrawan memerlukan perjuangan ekstra kuat. Mereka harus memiliki gairah dan minat (passion) tinggi, mampu berpikir kritis, memiliki kepekaan sosial mendalam, dan terampil dalam menuangkan gagasannya ke dalam tulisan bernilai seni, penuh makna. Asrul Sani, sastrawan kelahiran Rao, Sumatra Barat (10 Juni 1926), jelas menjadi salah satu contoh sastrawan unggul dan produktif yang sangat menonjol di jamannya, yakni di masa awal kemerdekaan hingga meninggalnya pada 11 Januari 2003.
Bagaimana seorang sastrawan seperti Asrul Sani dapat melahirkan karya-karya produktif?
Kalau dilihat dari latar belakang pendidikan formal, nampaknya sejak dulu banyak sastrawan terkemuka Indonesia yang tak memiliki pendidikan linier. Artinya, banyak dari mereka berlatar-belakang pendidikan formal yang tak sejalan.
Sebut saja misalnya Pramoedya Ananta Toer, novelis yang sekolah formalnya adalah sekolah teknik radio (Radiovakschool) di Surabaya. Itu pun ia tidak tamat.
Demikian juga Chairil Anwar yang hanya berpendidikan hingga Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), setingkat SMP. Dan ia juga tak tamat. Jalur pendidikan Asrul Sani nampak lebih baik, walaupun awalnya bidang keilmuan yang dipelajarainya tidak “match”.
Sebelum menekuni profesi sebagai sastrawan, ia belajar ilmu kedokteran hewan pada Pendidikan Tinggi Kedokteran Hewan (sekarang IPB University). Gelar dokter hewan pun ia peroleh (1955).
Selanjutnya, ia secara lebih terstruktur belajar seni sastra, khususnya dramaturgi dan sinematografi dari South California University. Jalan hidup Asrul Sani ada kemiripan penyair legendaris Taufiq Ismail yang awal studi formalnya juga di bidang kedokteran hewan IPB.
Pada saat ini, nampaknya banyak sastrawan terkemuka Indonesia juga berlatar belakang pendidikan tak linier. Ambil contoh, Andrea Hirata yang sangat dikenal karena karyanya “Laskar Pelangi”.
Ia tamatan Fakultas Ekonomi UI (S1) dan Universitas Paris (Sorbonne) serta Universitas Sheffield Hallam, Inggris (S2) jurusan Bisnis internasional. Ahmad Fuadi, penulis novel “Negeri 5 Menara”, adalah tamatan Universitas Padjadjaran, jurusan Hubungan Internasional. Atau juga Tere Liye, tamatan Universitas Indonesia, jurusan Akuntansi.
Ini apa artinya? Untuk menjadi seorang sastrawan memang tak harus memiliki latar belakang pendidikan formal sastra. Namun, nampaknya, semua sastrawan jelas harus memiliki dedikasi dan sikap disiplin tinggi.
Mereka tekun dan kreatif dalam menulis. Pengaruh lingkungan keluarga dan pergaulan nampaknya sangat penting. Kesimpulan saya, untuk menjadi sastrawan jelas tak mudah. Jalannya berliku, tak menentu, dan sangat sulit direkayasa.
Oleh karena itu, sastrawan jelas merupakan “produk langka” yang harus dijaga, dirawat, dan dilestarikan. Karena itu, perhatian penuh perlu diberikan pada mereka, agar kesejahteraan hidupnya lebih terjamin dan fasilitas pendukung dalam berkarya terpenuhi.
Hingga kini, nasib manusia langka ini nampaknya masih tak menentu. Secara ekonomi, kualitas kehidupan mereka banyak yang belum memadai. Bisa jadi, ini akibat rendahnya apresiasi pemerintah dan masyarakat terhadap mereka.
Hasil karya mereka belum mendapat imbalan yang sesuai. Besaran royalti (kalau pun ada) atas karya-karya yang mereka ciptakan umumnya masih sangat rendah.
Pemerintah pun belum bersemangat menganggarkan dana untuk pembelian karya-karya sastra mereka. Pemberian penghargaan terhadap karya sastra juga masih sangat terbatas.
Kalau pun ada, hadiahnya tak sebanding nilainya dengan karya yang diberikan. Akibatnya, kehidupan sastrawan di hari tua, banyak yang terlunta-lunta.
Memang, kepuasan utama seorang sastrawan tentu tak terletak pada imbalan materi yang mereka terima. Pengakuan publik (public recognition) terhadap karya-karya yang dihasilkan, dirasakan lebih penting.
Kebahagiaan tertinggi dirasakan ketika karya sastra yang mereka ciptakan dianggap mampu rekaman peristiwa historis penting dalam kehidupan, dan berhasil merekat dalam ingatan publik untuk dijadikan acuan.
Tentu, karya sastra tak mungkin menyaingi kekuatan kitab suci yang secara luas dibaca, dijadikan rujukan, dan menjadi sumber inspirasi dari jaman ke jaman. Namun hasil karya sastra besar biasanya selalu dijadikan bagian referensi kehidupan.
Lagi-lagi, kini persoalannya adalah, apakah karya-karya besar semacam itu akan tumbuh subur manakala para sastrawan dalam bekerjanya harus diganggu oleh keharusan mencari kebutuhan dasar hidup?
Tulisan pendek ini dimaksudkan untuk menjadi pengingat dan pendorong tumbuhnya upaya lebih kuat untuk menjamin kesejahteraan hidup para seniman.
Bila tidak, mana mungkin akan merebak karya-karya kreatif seperti yang telah diproduksi Asrul Sani dalam bentuk puisi ikonik “Surat dari Ibu” (1940-an), Cerpen “Sahabat Saya Cordiaz” (1950-an), Esai “Catatan atas Kertas Merah Jambu” (1950), atau film “Apa Jang Kau Tjari, Palupi?” (1970), “Nagabonar” (1987).
Saya berkeyakinan, hanyalah dengan memberi jaminan kehidupan dasar pada sastrawan, karya karya besar kreatif-inovatif dapat lahir mengikuti perkembangan jaman.
Saya jadi teringat, masalah ini sebenarnya pernah saya kemukakan 40-an tahun lalu kepada penyair Taufiq Ismail.
Saat saya masih mahasiswa dan tinggal satu atap bersama beliau, saya menyaksikan beberapa sastrawan yang selalu datang rutin ke rumah Taufiq Ismail untuk meminjam uang sekedar menyambung hidup.
Saya sedih melihat keadaan ini. Sambil meminum teh, Om Taufiq Ismail (begitu saya biasa memanggilnya) pernah berkomentar singkat. “Tak benar kehidupan sastrawan selalu susah dan berada dalam keadaan miskin. Banyak juga kok yang kaya.
Bahkan ada yang sangat kaya.” Saya pun penasaran. “Siapa dia?” Om Taufiq menjawab sambil tersenyum, “Asrul Sani!” “Lho kok? “Ya, Asrul Sani memiliki harta luar biasa berharga berupa perhiasan yang mungkin beratnya lebih dari 50 kilogram”. Namanya “Mutiara Sani”. Saya terlambat tersenyum karena tak paham. Setelah paham, saya pun tertawa terbahak bahak.
Semoga kehidupan para sastrawan di masa depan akan lebih baik dan sejalan dengan perbaikan nasib kehidupan guru dan dosen yang hingga hari ini belum mendapat jaminan kesejahteraan hidup yang baik. Semoga peringatan “100 Tahun Sastrawan Asrul Sani” benar-benar membawa hikmah!
Jakarta, 20 April 2026
*Artikel ini dimuat dalam akun facebook Imam B. Prasodjo, Rabu (10/6/2026).

