0 5 min 12 hrs

Bogor, Rp1News –- Klaim cinta Tanah Air dan Bangsa Indonesia lewat perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, bukan hanya milik pejabat tinggi negara di Kementerian atau Istana.

Rakyat di level yang lebih rendah seperti tingkat Rukun Tetangga (RT), Rukun Warga (RW),dan Kelurahan, punya cara khas untuk menunjukkan rasa cinta Tanah Air lewat peraayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) ke 81 tahun ini.

Di tengah berbagai kesulitan ekonomi yang dirasakan, mereka menggalang spirit kolaboratif untuk mengatasi berbagai kendala, utamanya pendanaan.

Fashion show oleh anak dan remaja
Oplus_131074

Inilah agaknya cara yang boleh disebut paling tulus dan ikhlas karena semata cinta dan pengabadian dari lingkungan terkecil kepada bangsa dan negara.

Tengok saja, mulai dari menggelar aneka lomba murah seperti makan krupuk, tarik tambang, atau permainan lain yang memantik kegembiraan warga.

Para pemenang lomba pun diberi apresiasi dengan berbagai hadiah hiburan seperti peralatan elektronik, perlengkapan rumah tangga, dan hadiah khusus untuk anak-anak dan remaja lainnya.

Paduan suara oleh kaum ibu
Oplus_131074

Hadiah itu pun bagikan dengan menggelar acara khusus syukuran yang menghadirkan hiburan musik organ tunggal, tari-tarian, tarik suara, tentu saja ada sambutan, doa, dan makan bersama.

Suasana guyub dan meriah dalam merayakan HUT Kemerdekaan ke 81 seperti itu penulis rasakan di sejumlah tempat di Kota Bogor, seperti antara lain di Perumahan Villa Bogor Indah 3, Rt 06/15, Kelurahan Kedung Halang, Bogor Kota, Sabtu (22/8/2028).

Dimotori oleh Windu Topo, Ketua Rt yang juga seorang pemain organ tunggal yang menguasai teknis audio visual, dia membentuk kepanitiaan Perayaan HUT Kemerdekaan yang hasilnya cukup megah dan meriah untuk ukuran wilayah setingkat Rt.

Panitia itu terdiri dari kaum ibu dan bapak serta remaja warga perumahan.

Di lapangan mini serbaguna yang merupakan fasilitas sosial milik warga, panitia membuat panggung dan tenda cukup megah dengan beragam hiasan yang menunjukkan suasana kemerdekaan dengan dominasi warna merah putih.

Seperangkat peralatan audio visual berkekuatan sedang seperti 4 unit salon, layar digital, perlengkapan lainnya terpasang secara profesional.

Di tengah tenda berdiri meja yang di atasnya tersaji sejumlah hidangan berat dan ringan. Ada nasi, lontong, bakso, sate ayam ,tempe bacem ,bihun ,sambal, snack, buah-buahan, dan air mineral.

Dengan mengangkat tema Semarak Perayaan Kemerdekaan, panitia menyusun acara yang lumayan rapi.

Di depan ratusan penonton, acara dibuka dengan pembacaan ayat suci Alquran, menyanyikan lagu Indonesia Raya, kemudian sambutan-sambutan, dan dilanjutkan dengan acara hiburan fashion show remaja dan balita, pertunjukkan tari kreasi, dan paduan suara kaum ibu.

Dari panggung itu mengalunlah lagu pop Laskar Pelangi, Cantik, Pelangi di Matamu, Terajana, dan lagu dangdut lainnya.

Pendek kata, warga dari semua tingkatan usia ikut dilibatkan memeriahkan acara sehingga membuat penonton dan perangkat desa yang hadir terhibur.

Dalam sambutannya, Windu selaku Ketua Rt menyebutkan, walau pun untuk skala Rt, tak mudah menyiapkan acara yang tergolong megah itu

“Tidak mudah menyiapkan event sebesar ini karena memerlukan persiapan selama satu bulan. Jadwal latihannya sangat ketat,” ujarnya.

Tapi, berkat dukungan dan kerjasama warga dalam menyumbangkan tenaga dan dananya acara dapat terselenggara.

“Alhamdulillah warga mendukung dengan menyumbangkan tenaga dan dana. Yang penting bukan besar atau kecil tapi keikhlasannya,” tambahnya.

Dia mengapresiasi warga yang sudah bersedia mengibarkan bendera merah putih di halaman rumah masing-masing.

Karena, katanya, itulah bentuk penghormatan kepada para pahlawan yang telah berkorban dengan harta dan nyawanya demi merebut kemerdekaan Indonesia.

Perjuangan belum selesai

Di mata Windu, perjuangan belum selesai. Utamanya perjuangan dalam bentuk lain dari seluruh anak bangsa untuk mengisi kemerdekaan ini.

“Mari kita isi kemerdekaan ini dengan kegiatan yang baik dan bermanfaat bagi warga, khususnya anak-anak dan generasi muda,” imbaunya.

Jika di era pra kemerdekaan pahlawan adalah mereka yang berjuang di medan perang, maka setelah kemerdekaan bapak-bapak yang bekerja mencari nafkah buat keluarga adalah juga pahlawan.

“Kaum ibu yang mendidik, membimbing, dan mengasuh anak-anaknya di rumah adalah juga pahlawan,” tegasnya.

Windu memanfaatkan waktu sambutannya dengan menyampaikan pesan-pesan pembangunan seperti pentingnya Iuran Pemeliharaan Lingkungan (IPL), dan meminta kepada pejabat di tingkat kelurahan untuk mendukung pembangunan wilayahnya dengan memasukkan program yang telah diajukan.

“Masih banyak pekerjaan yang harus dituntaskan. Antara lain, pembuatan dinding tebing dan mengatasi banjir di beberapa titik lingkungan perumahan. Dan pada 2027 akan ada pengaspalan jalan di lingkungan. Semoga dapat tepat waktu,” harapnya. (hs)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *