0 2 min 23 hrs

Jogyakarta, Rp1News — Semua program sosial, termasuk Kuliah Kerja Nyata (KKN), harus didasarkan pada ‘compassion’ bukan semata-mata ‘empathy’.

Karena empathy masih bersifat memberi karena bersimpathy, ada hubungan patron-client disini, ada juga patriarchy di sini. Sedangkan companion itu lebih equal dan emansipatoris.

Hal itu diungkapkan pengacara senior dan pegiat Hak Azasi Manusia (HAM) Todung Mulya Lubis, dalam unggahan di akun pribadinya, Sabtu (22/8/2026).

Hal itu diunggah Todung Mulya Lubis usai memberikan kuliah umum bersama pemenang Nobel Perdamaian 2014 dari India, Kaliash Satyaarthi, di Kampus Universitas Gajah Mada (UGM) Jogyakarta.

“Kailash memberikan kuliah umum yang memikat dan inspiring berdasar pengalamannya yaitu bagaimana membangun koalisi, membangun pemberdayaan dan menciptakan ‘ownership’ sehinga semua pihak akan mencoba mempertahankan dan merawat gerakan sosial yang memperbaiki keadaan.

“Kailash mengatakan, konsep compassion disini berarti actif dan problem solving, bukan simpathy atau empathy yang sifatnya passive,” paparnya.

Kailash bilang juga, kita semua musti punya mimpi besar, jangan mimpi kecil. Kalau kita tak berimpi maka kita tak akan berusaha meraih mimpi tersebut.Mimpi itu tidak mengeluarkan uang.

Todung menuliskan, dia dua hari mendampingi pemenang Kailash Satyarthi dan hadir dalam acara Nobel Lecture di Balai Senat UGM.

“Jam 8 saya sudah berada di Balai Senat, UGM, untuk menghadiri Nobel Lecture oleh pemenang Nobel Peace 2014, Kaliash Satyaarthi dari India,” jelasnya

Kaliash Satyaarthi adalah orang India pertama yang memperoleh Nobel Peace. Menariknya, ulas Todung , dia datang dari masyarakat sipil yang selama hidupnya berjuang untuk menghapuskan buruh anak, membuat regulasi yang melarang perusahaan mempekerjakan buruh anak pada tingkat nasional maupun internasional.

“Saya memberikan pengantar untuk kuliah umum ini mengkaitkannya dengan KKN (Kuliah Kerja Nyata) yang dipraktikkan oleh universitas di Indonesia.

Khusus UGM, peserta KKN-nya terbilang paling besar karena sekitar 9000 mahasiswa dikirim ke seluruh pelosok Indonesia untuk membangun kesadaran bersama untuk menjaga wilayahnya dari emisi, sampah dan sebisanya menolak fossil fuels. (hs)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *