0 5 min 4 hrs

Jakarta, Rp1News — “Kuyut, pulihlah segera. bukankah kita sudah berjanji hendak mendekati negeri timur yang sangat ingin dijelang setelah Kuyut sembuh? Ayolah. Lewati tahapnya, juang yang keras Kuyut. Ayolah penyairnya. Pulih! Doa kesembuhan Kuyut terus, bak tak henti-henti!

Unggahan doa dan harapan dan pegiat sastra dari Badan Bahasa Eva Yenita Syam itu terjawab beberapa jam kemudian di hari yang sama: Iyut Fitra, yang disapanya dengan Kuyut, memang sembuh. Namun sembuh untuk selamanya. Sebab setelah itu, media sosial dipenuhi berita duka: Iyut Fitra meninggal dunia.

Innalilahi waina lilahi rojiun.

Telah berpulang ke rahmatulah saudara kita Iyut Fitra (Zulfitra) di RS M Djamil, Padang. Pada pukul 15.26 WIB, 27 April 2026.

Ya, dunia sastra kehilangan salah seorang pejuangnya yang setia dan konsisten. Penyair Iyut Fitra wafat di Rumah Sakit Zamil Padang, Senin (27/4/2026), setelah beberapa bulan dalam perawatan karena sakit yang dideritanya.

Ucapan belasungkawa, doa, dan kenangan tentang almarhum pun merebak memenuhi dinding media sosial.

Penyair dan esais Sunlie Thomas Alexander dalam akun facebooknya mengirim kata duka cita: Kabar dari Heru Joni Putra: Innalilahi waina lilahi rojiun.

“Telah berpulang ke rahmatulah saudara kita Iyut Fitra (Zulfitra) di RS M Djamil, Padang. Pada pukul 15.26 WIB, 27 April 2026. Semoga husnul khotimah dan keluarga yang ditinggal tabah dan sabar.”

Penyair Rini Intama mengunggah ucapan bernada kenangan. Katanya: Februari 2026 lalu kuyut Iyut Fitra masih menulis endorse buat buku aku yg terbaru Molase. Dan hampir semua buku puisiku Kuyut menulis endorse. Tapi hari ini kuyut pergi selamat jalan sahabat.

“Tubuhmu boleh berpulang, tapi setiap kata yang kau tulis adalah napas yang akan terus berembus. Kau tidak benar-benar pergi; kau hanya pindah ke dalam puisi-puisimu dan jadi semangatku. Terima kasih Kuyut, terima kasih atas persahabatan kita. Al Fatihah,” ungkap Rini Intama lengkap dengan emotikon duka dan foto-foto bersama mendiang.

Penyair Roymon Lemosol dari Ambon mengunggah kesan selama berinteraksi dengan almarhum.

“Saya mengenal Bang Kuyut (Iyut Fitra) lewat buku kumpulan Cerpennya “Orang-orang Berpayung Hitam”yang saya beli sekitar tahun 2015. 2017 kita berjumpa dalam acara Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia 2 di Hotel Mercure, Ancol Jakarta,” tulisnya

Menurut Roymon, pada tahun 2018 mereka berjumpa lagi di Temu Penyair Asia Tenggara I, Padangpanjang.

“Dua Minggu sebelum masuk RS, Bang Kuyut masih sempat mengirim buku kumpal puisinya yang terbaru, “MAEK”. Hari ini lewat postingan beberapa penyair, Bang Kuyut telah pergi untuk selamanya. Tak ada kata yang bisa diucapkan selain doa yang tulus, semoga surga tempatmu, Bang,” pungkas Roymon.

Penyair Toto ST Radik, mengunggah ucapan duka cita disertai puisi untuk almarhum.

“Selamat jalan, Kuyut Iyut Fitra . Husnul Khotimah, wahai Penyair. Kuunggah ulang puisi yang kutulis untukmu tahun 2024. Kaos Palanta Puisi hadiah darimu masih kusimpan dan kupakai. Sekali lagi, selamat jalan Sahabat. Al-Fatihah,” ucapnya. Berikut puisi Toto ST Radik:

Malin
: Iyut Fitra

musim retak
di payakumbuh
kau pun
memasuki
dongeng
dongeng tua
berjalan
ke dalam
kelam
ke sudutsudut
nagari koto nan ampek
“aku penyair gagal
membaca peta negeri ini!”
serumu serak
seperti suara gagak
sesudahnya ialah
lagu
lagu muram
gadis pekan rambut sepinggang
mencari jalan mendaki
langit malam pun
berwarna ungu
“ketuklah pintu, jemput aku!”
tetapi tak ada
yang datang
menjemput
malam bisu
takdir kelu
tambangtambang pasir sembilu
musim terus retak
di payakumbuh
kau pun menjelma
menjadi
kelewang
yang di hari berikutnya
ingin kembali
berkilat
dan
berkilau
seperti hamparan lumut suliki
seperti puisi
yang diberi arti
tetapi
dongengdongeng tua
telah tiada
tanpa nisan
tanpa tanda
seperti segala
kesiasiaan
“tangislah kata pertama,”
katamu
dalam
sedu
sedu
yang
dalam
“malin,
malin,
jadilah kau
melampaui yang akan melangkahi
sapu!”
kemudian
musim pun
mengalir
mengalir

 

2024

Ucapan belasungkawa dan puisi untuk almarhum Iyut Fitra juga diunggah oleh penyair Hasan Aspahani di akun facebooknya:

“Selamat jalan, penyair tangguh, Iyut Fitra. Saya belajar banyak darimu soal konsistensi, dan mencintai puisi dengan keras kepala. 2018, di Payakumbuh Poetry Festival, saya singgah di rumah gadang keluargamu. Dan menulis sajak ini, ungkap Hasan. Berikut puisi karya Hasan Aspahani:

Terbayang-bayang Rumah Gadang

Sajak Hasan Aspahani

: Kuyut

ENGKAU yang menunjuk ke sudut, dan

mengatakan: itulah dulu kamarku…

ruang yang tak lagi perlu kau masuki

karena telah berjajar genjang membingkai

jendela, permainan gambar matahari

siang hari, dan halaman luas melelahkanmu

pembohong dan terbang.

 

Engkau yang menuju jenjang ke belakang,

karena begitulah lelaki pergi, setelah itu

mencium tangan ibu, menghirup aroma doa,

santan susu, buih peluh, kecoh kenangan

yang selalu minta ditarikan, di jalan

lurus dan berbelok, juga yang menurun

dan.

Engkau yang mengingat bayangan tahun,

1930, dan kembang api mekar di dapur

yang dekat, dan lapar yang dipersunting

lebih dekat lagi, dan Anda yang menunjuk

pada teras, dengan tempat duduk untuk

para tamu-tamu dekatmu, yang kau terima

sebagai dirimu yang jauh darimu.

 

2018

(hs)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *