Bogor, Rp1News – Dunia sedang bergerak cepat. Terkadang kecepatannya terasa seperti tidak bisa diprediksi atau dikontrol. Inilah dampak dari hampir semua bidang kehidupan manusia yang “dikendalikan” internet.
Berbagai informasi tumpah ruah. Tingkat kualitasnya pun beragam. Ada informasi yang sangat dibutuhkan, cukup dibutuhkan, tidak dibutuhkan, sampai ke tingkat sangat tidak dibutuhkan karena informasinya bernilai sampah beracun yang tidak bermanfaat bagi kehidupan manusia.
Di situlah kita manusia dituntut bijak memilah dan memilih informasi. Jangan sampai terjadi informasi berkualitas sampah beracun yang merusak kesehatan fisik dan psikis manusia lebih banyak dikonsumsi ketimbang informasi berkualitas yang penuh gizi dan nutrisi bagi jiwa raga.
Dalam konteks itulah antara lain, Sekolah Menengah Pertama (SMP) Bina Qurani (BQ) Islamic School menempatkan paket mata pelajaran diniyah (agama) dan Informasi Teknologi (IT) sebagai asupan utama bagi siswa-siswanya.

Di samping melalui pengajaran formal di kelas oleh para ustad –demikian BQ School menyebut para gurunya, sekolah berkosnep pesantren boarding school ini juga kerap mengundang pembicara atau mentor dari luar sekolah untuk memberikan asupan materi umum yang berkorelasi dan mendukung pelajaran utama di sekolah yang baru berdiri empat tahun itu.
Salah satu kegiatan yang mengundang mentor dari luar adalah apa yang mereka sebut dengan program LABIRIN atau yang berarti Literasi Amanah Bina Qurani.
“Ini adalah wadah pembinaan dan pengembangan bakat bagi siswa di sekolah kami khusus dalam bidang literasi,” ungkap Ardiansyah, S.Pd, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum BQ School yang merangkap sebagai guru mata pelajaran Bahasa Indonesia, dalam perbincangan dengan Rp1News baru-baru ini.
Sebagai pengejawantahan dari program LABIRIN, di satu pagi yang cerah di bulan April itu, Ardiansyah mengundang Yuliyanti Basri, SE, M.Si, seorang Relawan Literasi Masyarakat (RELIMA) Perpustakaan Nasional RI dan Founder JB Edukreatif Indonesia guna memberikan materi bertema Lierasi Digital.
Untuk mengikuti kegiatan itu, didampingi sejumlah ustad, Ardiansyah mengundang sekitar 50 orang siswa BQ School dari berbagai kelas di dalam mesjid megah milik sekolah.
Bagi Ardiansyah, kegiatan mengundang pembicara dari luar dalam program LABIRIN sudah sering dilakukannya.
Hal itu nilainya penting sebagai bagian dari pembinaan dan pengembangan bakat di bidang literasi bagi siswanya.
Pelajaran Tahfiz, Bahasa Arab dan Bahasa Indonesia disinkronkan dengan kegiatan ini.
“Kami menganggap kegiatan ini penting untuk memotivasi siswa dan menumbuhkan minat dan bakat literasi siswa,” tegasnya.
Menurut Ardiansyah, tujuan lain kegiatan bertema Literasi Digital itu untuk mendalami ilmu pengetahuan di era digital yang semakin berkembang pesat.
Dia menyadari, sekarang literasi tidak hanya berbasis buku cetak namun juga media sosial dan elektronik berbasis internet.
Dari kegiatan ini dia berharap dapat menumbuhkan minat dan bakat siswa di bidang literasi.
“Kami juga berharap kegiatan ini menjadi benteng agar siswa tidak terpengaruh oleh maraknya konten negatif diluar sana yang akan berdampak negatif bagi psikis siswa,” papar Ardiansyah.
Kedepannya dia juga ingin melibatkan siswanya menulis buku atau membuat antologi puisi bersama.
Generasi Qurani
Bercerita tentang sejarah berdirinya SMP BQ Islamic School, Ardiansyah menuturkan bahwa sekolah ini baru berdiri pada sekitar 2022 dengan mengemban visi terwujudnya generasi Qurani yang beradab dan berwawasan global.
Komposisi pelajaran terdiri dari 60 persen diniyah (agama Islam) dan 40 persen pelajaran umum.
Meskipun relatif baru berdiri, namun BQ School mampu menarik siswa dari Papua, Aceh, Maluku, Kalimantan, dan Jabodatebek.
Semua siswa yang terdiri hanya pria wajib tinggal di asrama yang disediakan sekolah. Mereka baru boleh pulang di saat liburan panjang.
Di sini ada asrama putra. Siswa dari Papua, Aceh, Maluku, Kalimantan, Jakarta, yayasan Bina Qurani.
Saat ini BQ School memiliki 150-an siswa yang terdiri dari kelas 7 dua angkatan, kelas 8 dua angkatan, dan kelas 9 dua angkatan.
Sejak berdiri sekolah telah menghasilkan angkatan pertama sebanyak 60 siswa.
“Alhamdulillah lulusan dari sini bisa lolos tes masuk ke SMA favorit di Bogor , Jakarta, dan Bandung,” ungkap Ardiansyah.
Ardiansyah menargetosn lulusan BQ School memiliki karakter dan kecerdasan berbasis Qurani.
“Saya berharap sekolah ini semakin maju dan lulusannya dapat menjadi sumber inspirasi dan dapat mengamalkan dan mendakwahkan semua ilmu yang telah didapat di sini bagi masyarakat luas, “ pungkas Ardiansyah.
Dengan dukungan kolaboratif antara sumber daya pendidik yang mumpuni, kurikulum sekolah teruji, dan infrastruktur yang prima, cita-cita luhur itu mestinya bukan tantangan yang tak bisa diwujudkan.(hs)

