0 3 min 7 hrs

Poso, Rp1News — Kabar penangkapan teroris di Sulawesi Tengah itu sampai lagi. Lewat layar ponsel yang berpendar atau obrolan di pasar, berita tentang delapan orang jaringan JAD dan ISIS yang diamankan menyebar seperti aroma hujan di tanah kering. Khas, namun kali ini membawa getir yang sudah sangat akrab bagi warga di sana.

Luka Lama dan Trauma Terorisme di Poso

Bagi kita yang membaca dari kejauhan, itu mungkin hanya angka: delapan terduga, dua jaringan besar. Namun bagi seorang ibu di Poso atau tetangga di Sulteng, berita itu adalah sebuah napas panjang yang tertahan. Ada rasa lelah yang sulit diungkapkan.

Mereka hanya ingin bangun pagi, berangkat ke kebun cokelat atau melaut, tanpa harus merasa bahwa tanah yang mereka cintai masih menyimpan “bara” radikalisme yang sesekali memercikkan api. Bayangkan perasaan warga yang tinggal berdekatan dengan lokasi penangkapan. Ada trauma lama yang dipaksa bangun kembali—ingatan tentang sirine, barikade, dan tatapan penuh curiga dari dunia luar yang seolah belum mau menghapus label “zona merah” dari peta rumah mereka.

Perjuangan Sulteng Melawan Stigma “Zona Merah”

Padahal, masyarakat Sulawesi Tengah saat ini sedang giat-giatnya menenun kembali sisa-sisa persaudaraan. Mereka sedang sibuk membuktikan bahwa kopi yang mereka tanam lebih harum daripada aroma konflik, dan senyum mereka lebih tulus daripada narasi kebencian yang dipaksakan masuk ke telinga anak-anak muda.

Penangkapan ini terasa seperti sebuah langkah mundur dalam upaya mereka untuk menjadi masyarakat yang “biasa”. Mereka ingin dikenal karena festival budayanya dan keramahannya, bukan karena menjadi tempat persembunyian sel teroris JAD atau ISIS yang tak kunjung usai.

Penjagaan ketat Detasemen Khusus (Densus) 88 di lokasi penangkapan teroris Sulawesi Tengah. Dok. Polda Jatim

Pahlawan di Balik Pintu Rumah: Deradikalisasi Alami

Di sinilah empati kita harus berlabuh: pada para orang tua yang kini mungkin lebih sering mengecek ponsel anak-anak mereka dengan cemas. Pada guru-guru ngaji yang harus lebih hati-hati menjelaskan arti kasih sayang di tengah gempuran propaganda radikal. Mereka adalah petarung sejati yang tidak memegang senjata.

Mereka sedang bertarung melawan stigma. Bertarung agar generasi berikutnya di Poso dan Sulteng tidak perlu lagi mewarisi dendam yang mereka sendiri tidak tahu kapan bermula.

“Damai itu bukan sekadar absennya suara tembakan, tapi saat seorang warga tak perlu lagi merasa was-was ketika mendengar langkah sepatu lars di depan rumahnya.”

Setiap operasi Densus 88 adalah pengingat bahwa tugas kita bukan hanya mendukung penegakan hukum, tapi juga merangkul mereka yang terus-menerus mencoba menyembuhkan luka lama. Mari kita beri ruang bagi masyarakat Sulteng untuk tetap percaya bahwa kedamaian yang mereka perjuangkan setiap hari tidak akan kalah oleh bayang-bayang masa lalu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *