CIBINONG Rp1News –-Abu vulkanik yang berasal dari letusan gunung Anak Krakatau menyebabkan wilayah Kota dan Kabupaten Bogor mengalami darurat debu.
Akibatnya kedua kepala daerah tersebut menerapkan libur sekolah mulai hari Senin (7/9/2026) dan Selasa (8/9/2026).
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor melalui Dinas Pendidikan resmi memberlakukan kegiatan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi peserta didik di wilayah Kabupaten Bogor mulai tanggal 7 hingga 8 September 2026.

Langkah ini diambil sebagai bentuk mitigasi dan respons cepat atas aktivitas Gunung Anak Krakatau yang menyebabkan hujan abu vulkanik di sejumlah kawasan Kabupaten Bogor.
Keputusan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor Nomor 800.1.11.1/90 – Sekretariat tertanggal 6 September 2026 tentang Mitigasi Abu Vulkanik dan Pembelajaran Jarak Jauh.
Kebijakan PJJ berlaku untuk jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD/TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), hingga Satuan Pendidikan Non Formal (SPNF SKB dan PKBM) baik negeri maupun swasta.
Bupati Bogor Rudy Susmanto, menyampaikan bahwa keselamatan serta kesehatan peserta didik menjadi prioritas utama, di samping upaya untuk memastikan hak anak atas layanan pendidikan tetap terpenuhi di tengah potensi ancaman bencana alam.
“Guna mengurangi risiko dampak kesehatan akibat abu vulkanik pada peserta didik, berdasarkan arahan Gubernur Jabar Kang Dedi Mulyadi kami memberlakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), selama dua hari 7-8 September 2026,” ungkap Bupati Bogor.
Menurutnya, proses belajar mengajar dilakukan dengan memberikan materi akademik yang tetap mengedepankan pengembangan karakter, nilai akademik, serta motivasi belajar anak
Atas arahan Bupati Bogor, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kabupaten Bogor bergerak cepat melakukan light water spray atau penyemprotan air ringan di sejumlah ruas jalan, Minggu (6/9/2026).
Penyemprotan dilakukan serentak di 11 wilayah, mulai dari Ciawi, Ciomas, Parung, Parung Panjang, Cibinong, Cileungsi, Cariu, Babakan Madang, Citeureup, Leuwiliang hingga Gunung Putri.
Langkah preventif ini dilakukan untuk membantu mengurangi debu yang beterbangan dan meminimalisir paparan debu vulkanik kepada masyarakat.
Wargi Bogor, tetap tenang dan ikuti informasi resmi dari pemerintah. Jika beraktivitas di luar ruangan saat kondisi udara berdebu, jangan lupa gunakan masker sebagai perlindungan dari paparan partikel di udara.
Tenang tapi waspada
Dari pantauan Rp1News di Kota Bogor, sebaran abu dari letusan gunung Anak Krakatau masih terasa sampai Senin siang (7/9/2026).
Hal ini nampak dari sejumlah kendaraan roda dua dan empat yang diparkir warga tertutup abu berwana putih kehitaman. Mereka tidak segara membersihkannya karena sebaran abu belum berhenti.
Yuliyanti, seorang ibu rumah tangga warga Perumahan Vila Bogor Indah 2 mengeluh karena harus berulang kali mengepel rumahnya karena abu
Dibanding dengan abu yang turun pada Sabtu (4/9) yang lebih hitam danberat, abu pada Sabtu dan Minggu lebih lembut dan ringan.
Pemkot Bogor mengingatkan warganya agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi sebaran abu vulkanik dari aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau itu
Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim, mengatakan agar masyarakat menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah.
Penggunaan masker dinilai penting untuk melindungi saluran pernapasan dari paparan partikel abu yang berpotensi menimbulkan iritasi hingga gangguan pada paru-paru.
Selain melindungi pernapasan, Dedie meminta warga, menggunakan kacamata pelindung untuk menghindari iritasi mata akibat partikel abu.
“Tutup rapat pintu dan jendela rumah agar debu vulkanik tidak masuk dan mencemari ruangan,” ujar Dedie, Minggu (6/9/ 2026).
Ia juga mengimbau warga untuk memenuhi kebutuhan cairan tubuh dengan mengonsumsi air putih secara cukup.
Selain itu, masyarakat diminta rutin mencuci tangan dan wajah setelah melakukan kegiatan di luar ruangan guna membersihkan partikel debu yang mungkin menempel.
Dedie meminta masyarakat tidak panik, tetapi tetap harus meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti perkembangan situasi.
Informasi resmi terkait aktivitas vulkanik dan kondisi kebencanaan, kata dia, perlu terus dipantau melalui instansi yang berwenang, seperti PVMBG, BPBD, dan PMI.
“Warga agar tetap tenang, tetapi harus waspada dan mengikuti informasi resmi dari instansi yang berwenang. Apabila terjadi hujan abu, segera hindari atau kurangi aktivitas di luar ruangan,” pungkasnya. (hs)

